Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Pemanfaatan Iradiasi Gamma untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah

19 Agustus 2026
in Headline, Inovasi
Pemanfaatan Iradiasi Gamma untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah

Produksi biodiesel dari minyak jelantah/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Yogyakarta- Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengembangkan pemanfaatan teknologi iradiasi gamma Cobalt-60 (Co-60).

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi biodiesel dari minyak jelantah. Pengembangan ini untuk menjawab tantangan perlunya energi terbarukan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu memanfaatkan limbah menjadi sumber energi bernilai tambah.

Dosen Poltek Nuklir, Dhita Ariyanti, menyampaikan bahwa pengembangan energi alternatif semakin dibutuhkan. Hal ini seiring dengan meningkatnya konsumsi energi dan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil.

Di Indonesia, kebutuhan energi yang terus meningkat dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga menjadi tantangan dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca.

Dalam kondisi tersebut, Dhita melihat peluang pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi terbarukan. Minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga dan berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah menjadi biodiesel sehingga memiliki nilai tambah.

“Biodiesel memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil, antara lain menghasilkan emisi yang lebih rendah dan mudah terurai secara alami. Selain itu, biodiesel dapat membantu mengurangi peningkatan kadar CO₂ di atmosfer,” ujarnya kepada Tim Humas BRIN, Selasa (18/8/2026).

Dalam penelitian tersebut, minyak jelantah dipilih sebagai bahan baku karena jumlahnya melimpah dan sering kali menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Selain itu, penggunaan minyak goreng secara berulang juga diketahui dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Pemanfaatannya sebagai bahan baku biodiesel menjadi solusi yang memberikan manfaat ganda yakni mengurangi limbah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.

“Penggunaan minyak goreng berulang kali ini menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Untuk mengatasi masalah ini, limbah minyak goreng dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan baku produksi biodiesel,” Dhita mengungkapkan.

Berbeda dengan proses produksi biodiesel konvensional, penelitian ini memanfaatkan sinar gamma dari sumber radioisotop Cobalt-60. Iradiasi tersebut menghasilkan radikal bebas yang mampu meningkatkan reaktivitas molekul sehingga proses pembentukan biodiesel berlangsung lebih cepat dan efisien tanpa memerlukan penambahan bahan kimia baru.

“Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan volume biodiesel secara konsisten seiring dengan penambahan dosis iradiasi. Dari bahan baku awal sebanyak 150 mL, penelitian ini mencatat hasil produksi biodiesel tertinggi mencapai 104,7 mL yang diperoleh pada paparan dosis iradiasi 35 kGy,” ujarnya.

Analisis spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) yang dilakukan juga mengkonfirmasi terbentuknya gugus fungsional ester sebagai indikator utama biodiesel. Pada dosis iradiasi 20 kGy dan 35 kGy, perubahan spektrum FTIR terlihat lebih nyata.

Puncak-puncak kelompok fungsional seperti C-O, C=O, C-H, dan O-H menunjukkan perubahan intensitas yang signifikan dan sedikit pergeseran posisi. Menurut Dhita, temuan ini menunjukkan bahwa iradiasi gamma dapat meningkatkan produksi biodiesel tanpa modifikasi bahan kimia tambahan.

 

Meskipun memberikan hasil yang positif, peneliti tetap menggarisbawahi kehati-hatian secara ilmiah bahwa studi ini masih bersifat pendahuluan. Sebagai studi awal, klaim bahwa iradiasi mempercepat transesterifikasi harus didukung oleh data kuantitatif mengenai konversi, misalnya melalui pengujian instrumen GC atau ‘H-NMR.

“Pada studi mendatang, dosis iradiasi perlu ditingkatkan hingga melebihi 35 kGy. Hal ini diperlukan untuk mengetahui ambang batas ketika manfaat iradiasi tidak lagi optimal tanpa menurunkan kualitas biodiesel. Penelitian lanjutan juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keseluruhan proses,” ujar Dhita.

Inovasi ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia. Selain menawarkan solusi pengelolaan limbah minyak jelantah yang lebih berkelanjutan, teknologi iradiasi gamma berpotensi meningkatkan efisiensi produksi biodiesel sehingga dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan bahan bakar ramah lingkungan di masa depan.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Formation of Alkyl-Ester as Effect of Irradiation 60Co Gamma from Oil Waste: Preliminary Study as Candidate of Biodiesel yang terbit pada U.P.B. Scientific Bulletin, Series B, Volume 87, Issue 4, Tahun 2025.

Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi internasional antara Poltek Nuklir BRIN dengan Uzatom Atomic Energy Agency di Uzbekistan dan University of Maiduguri di Nigeria. Riset ini juga didukung oleh peneliti dari Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains Teknologi (DPLFRKST) BRIN.

 

Tags: #Badan Riset dan Inovasi Nasional#biodiesel#iradiasi gamma#minyak jelantah#Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Manggala Agni Kemenhut Gerak Cepat Gempur Karhutla di Riau

Manggala Agni Kemenhut Gerak Cepat Gempur Karhutla di Riau

30 Mei 2026
APHI-GAPKI Dorong Protokol Bersama Percepat Pemadaman Karhutla

APHI-GAPKI Dorong Protokol Bersama Percepat Pemadaman Karhutla

23 Agustus 2026
Tekan Emisi arbon, Astra Agro Gunakan Digitalisasi dan Tentara Serangga Pengendali Hama

Pungutan Ekspor Produk Sawit Naik Jadi 12,5 Persen, Ini Rinciannya

20 Maret 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?