Palmoil.id, Medan-Produktivitas kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh jumlah pupuk yang diberikan, tetapi juga oleh kesehatan tanah sebagai penopang pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.
Pemanfaatan pupuk organik menjadi salah satu upaya memperbaiki kondisi tanah sekaligus mendukung perkebunan yang produktif dan berkelanjutan.
Kepala Divisi Produksi PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Dr. Heri Santoso, menekankan pentingnya peningkatan kemampuan pekebun dalam memahami teknik budidaya, termasuk pengelolaan kesuburan tanah. Pemahaman tersebut diperlukan agar produktivitas tanaman dapat dijaga secara berkelanjutan.
Pupuk organik memiliki peran lebih luas daripada sekadar menyediakan unsur hara. Bahan organik dapat membantu memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.
Upaya tersebut diperkenalkan melalui Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi 130 pekebun Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Kegiatan yang diselenggarakan PT RPN dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) ini berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 di Medan.
Pupuk Organik sebagai Bagian dari Perawatan Tanah
Pemanfaatan pupuk organik juga membuka peluang bagi pekebun untuk mengolah bahan yang tersedia di sekitar perkebunan menjadi pupuk yang bermanfaat.
Selain membantu memperbaiki kesuburan tanah, langkah ini dapat mengurangi bahan yang tidak termanfaatkan dan menekan sebagian kebutuhan input produksi.
Namun, penggunaan pupuk organik perlu dilakukan secara tepat. Pekebun harus memahami kualitas bahan baku, proses pengolahan, tingkat kematangan pupuk, serta cara aplikasinya sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
Pupuk organik juga tidak serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan pupuk anorganik. Keduanya perlu digunakan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi tanah, umur tanaman, produktivitas, dan ketersediaan unsur hara.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Ian Persada Bangun, mengingatkan pekebun agar mengubah pola pikir dalam pemupukan.
“Kita mengubah mindset dulu. Kita pahami seperti apa penggunaan pupuk yang baik, berimbang, dan benar antara pupuk organik dan anorganik,” ujarnya.
Menurut Ian, pemupukan harus didasarkan pada kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan perlu diterapkan langsung dalam pengelolaan kebun.
Membangun Kebun yang Produktif dan Berkelanjutan
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) perkebunan agar pekebun mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih baik. Peserta juga mendapat kesempatan melakukan kunjungan lapangan ke KPUD Lestari di Kabupaten Simalungun.
Melalui kegiatan tersebut, pekebun diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesuburan tanah, memanfaatkan bahan organik, dan menerapkan pemupukan secara efisien.
Dengan pengelolaan tanah yang lebih baik dan pemupukan yang tepat, produktivitas kebun diharapkan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Upaya ini sekaligus memperkuat fondasi perkebunan kelapa sawit rakyat yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.



