Palmoil.id, Jakarta – Wilmar menargetkan pada 2030 sebanyak 11.700 petani sawit swadaya atau seluas 23.400 hektare (ha) memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Head Sustainability Wilmar Indonesia Pujuh Kurniawan mengungkapkan, salah satu upaya perusahaan merealisasikan target tersebut degan menggandeng pemerintah daerah, pembeli (buyer), perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
”Perusahaan membangun kolaborasi dengan multistakeholder supaya petani mendapatkan ISPO,” jelas dia pada saat Buka Puasa Bersama Media, di Jakarta, Jumat (07/3/2025).
Lansekap Siak Hijau merupakan kolaborasi multistakeholder yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak. Salah satu sektor yang menjadi prioritas dalam kolaborasi ini adalah pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis kelapa sawit, dengan mengembangkan perkebunan yang berkelanjutan bagi petani swadaya.
“Dalam melakukan pendampingan petani, Wilmar menerjunkan tim teknis standar budidaya (Good Agricultural Practices), High Conservation Value (HCV), NDPE atau No Peat and No Exploitation dan pelatihan ISPO,” kata Pujuh.
Terapkan Traceability
Wilmar sudah mengembangkan program kemamputelusuran atau traceability sejak tahun 2017 yaitu Integrated Program Implementation to Establish Sustainable & Inclusivity Independent Smallholder & Suppliers. Salah satu hasilnya Wilmar telah mensertifikasi ISPO lima koperasi petani sawit swadaya yang tersebar di wilayah Jambi, Riau dan Sumatera Utara.
Pujuh menjelaskan bahwa perusahaan petama kali membantu petani sawit swadaya meraih sertifikat ISPO tahun 2019. “Dari awal dua koperasi petani swadaya yakni Koperasi Tinera Jaya dan Koperasi Perkasa Nalo Tan. Kemudian berkembang menjadi 12 koperasi saat ini,” kata dia.
12 koperasi tersbut diantaranya: KUD Anugerah, KUD Makmur Jaya, Koperasi Sekato Jaya Lestari, Koperasi Tuah Abadi Makmur, Koperasi Benuar Perincit Sepakat dan Koperasi Petani Kelapa Sawit Kesepakatan.
Kemudian KUD Sinar Tani, Koperasi Panca Jaya, Koperasi Bina Usaha, Koperasi Produsen Tanjung Sehati Lestari, Koperasi Pemasaran Perkasa Nalo Tan dan Koperasi Tinera Jaya.
Bahkan, kata dia, Koperasi Tuah Abadi Makmur dan Koperasi Perkasa Nalo Tan memperoleh bantuan sarana dan prasarana (Sarpras) dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Koperasi Perkasa Nalo Tan di Jambi memperoleh bantuan senilai Rp3,8 miliar dan Tuah Abadi Makmur sekitar Rp4,8 miliar.
“Ini memicu petani sawit lain ingin bergabung dalam program tersebut,” ujar Pujuh.
Dalam Program Inclusivity of Smallholders in Supply Chain, peran pemerintah hanya memberi dukungan.
“Sedangkan pihak swasta membantu pendampingan dalam teknis budidaya seperti bantuan bibit, pupuk, traning ISPO, permodalan, peningkatan kapasitas dan pasar,” ungkap Pujuh.
Wilmar juga mengembangkan aplikasi Sistem Lacak Balik dan Manajemen Koperasi ISPO Terpadu (Silabanmerindu) untuk memperbaiki tata kelola perkebunan sawit.
“Aplikasi ini untuk mendata aggota petani, mendukung kebijakan anti deforestasi penananaman gambut dan eksploitasi (No Deforestation, No Peat and No Exploitation/NDPE) dan kebun sesuai persyaratan ISPO,” jelas Pujuh.
STDB petani sawit
Wilmar sudah berkolaborasi dengan pemerintah melalui Tim National Dashboard agar mempermudah petani daftar dan memperoleh Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). “Dengan bantuan Ditjen Perkebunan Kementan, pembuatan E-STDB petani bisa lebih mudah dan cepat,” kata Pujuh.
Berdasarkan data, jumlah petani mitra Wilmar yang sudah terdaftar di E-STDB sekitar 5.000 orang. “Targetnya hingga tahun 2030 sebanyak 52.500 petani swadaya telah mendapatkan STDB/E-STDB, melalui program kerjasama multi-pihak, bersama pemerintah terkait, para perusahaan pemasok & koperasi petani mitra, mitra pemerintah (NGOs), buyers,” ucap dia.
Sementara itu, Wilmar menjadi perusahaan kelapa sawit pertama di Indonesia yang telah mememnuhi persyaratan legalitas dan ketelusuran dari European Union Deforestation Regulation (EUDR) atau Undang-Undang Antideforestasi Uni Eropa melalui Dasbor Nasional pada Oktober 2024



