Palmoil.id, Bali- Perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan telah menjadi tantangan besar bagi industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Untuk mengatasi hal ini, SMART Research Institute mengembangkan varietas atau benih sawit yang lebih toleran terhadap kekeringan, dengan harapan dapat menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor pertanian.
“Kami telah mengembangkan metode berbasis Chlorophyll Fluorescence untuk menyeleksi tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Dari riset ini, ditemukan dua varietas unggulan, SD14 dan SD63, yang lebih tahan terhadap kondisi air terbatas,” ungkap Reni Subawati, peneliti dari SMART Research Institute.
Dalam uji coba di lapangan, kedua varietas ini menunjukkan penurunan produksi yang lebih kecil dibandingkan varietas konvensional, dengan peningkatan hasil panen sebesar 14-27% pada kondisi kekeringan ekstrem.
Saat ini, varietas SD14 sedang dalam proses legalisasi untuk dilepas sebagai varietas resmi. Jika berhasil diterapkan secara luas, inovasi ini dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi industri sawit dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, sekaligus menjaga produktivitas jangka panjang.
Dengan semakin meningkatnya ancaman perubahan iklim, riset seperti yang dilakukan oleh SMART Research Institute menjadi langkah penting dalam memastikan masa depan sektor perkebunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.



