Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Sawit Indonesia Sumbang Devisa Rp590 Triliun di 2025

25 Maret 2026
in Headline, News
Harga Sawit Sumbar Turun, Tertinggi RpRp3.435 per Kg

Harga tandan buah segar (TBS) petani turun/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Jakarta- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan nilai ekspor minyak sawit pada 2025 mencapai USD 35 miliar. Angka tersebut setara Rp591,8 triliun (asumsi kurs Rp16.911 per dolar AS).

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengungkapkan bahwa industri sawit Indonesia kembali menunjukkan ketahanan di tengah tekanan geopolitik global.

Di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah, ekspor minyak sawit nasional masih tetap berjalan dan bahkan mengalami peningkatan di sejumlah pasar.

“Kita prihatin dengan adanya perang di Timur Tengah. Tetapi di satu sisi kita bersyukur ternyata industri sawit masih cukup kuat menghadapi ini. Masih bisa ekspor, masih bisa keluar,” ujar Eddy, dalam konferensi pers dan acara buka puasa bersama di Shangri-La Jakarta, Kamis (12/3).

Ia mengatakan ekspor minyak sawit Indonesia tetap berjalan meskipun terjadi kenaikan signifikan pada biaya logistik akibat konflik tersebut.

“Freight and insurance itu naik sampai 50 persen rata-rata. Bahkan untuk beberapa tujuan ekspor seperti ke Eropa,” katanya.

Eddy menjelaskan, produk sawit Indonesia saat ini telah diekspor ke sekitar 177 negara dengan volume sekitar 32,3 juta ton, meningkat dibandingkan 2024, sementara nilai ekspornya juga naik dari sekitar USD29 miliar menjadi USD 35 miliar.

“Jadi artinya, industri sawit ini luar biasa. Industri sawit benar-benar sebagai penopang ekonomi nasional,” ungkap Eddy.

Namun demikian, ia mengakui konflik di kawasan Timur Tengah tetap menimbulkan gangguan pada sebagian jalur perdagangan, khususnya untuk ekspor yang harus melewati Selat Hormuz.

Menurutya, volume ekspor sawit Indonesia ke kawasan Timur Tengah yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 1,83 juta ton.

“Yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East, terutama yang harus melalui Selat Hormuz. Ekspor kita ke Middle East itu ada sekitar 1,83 juta ton,” ujar Eddy.

Ia menjelaskan sebagian pengiriman masih dapat melalui Terusan Suez, namun dengan risiko dan biaya yang lebih tinggi. Alternatif lainnya adalah kapal harus memutar jalur lebih jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang turut mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi.

Meski demikian, Eddy mengatakan ekspor sawit Indonesia masih tetap berjalan di tengah situasi tersebut.

“Artinya industri sawit membuktikan bahwa dengan kondisi sesulit apa pun masih bisa berjalan,” katanya.

Di tengah gangguan jalur perdagangan tersebut, ekspor sawit Indonesia ke kawasan Afrika justru mengalami peningkatan.

“Ke Afrika itu justru terjadi kenaikan ekspor kita. Dengan kondisi perang ini Afrika masih bisa jalan, kecuali sedikit gangguan ke Mesir,” ujarnya.

Eddy menjelaskan ekspor sawit Indonesia ke kawasan Eropa juga masih cukup besar. Tercatat ekspor ke negara-negara Uni Eropa mencapai sekitar 3,2 juta ton, sementara ke negara Eropa di luar Uni Eropa sekitar 900 ribu ton atau hampir 1 juta ton.

“Eropa ini kita 3,2 juta ton, tapi di luar dari EU artinya Eropa tetapi non-EU itu 0,9 atau 900.000 ya artinya hampir 1 juta ton. Total sekitar 4,4 juta kalau dua itu termasuk Rusia,” katanya.

Meski ekspor masih berjalan, Eddy mengingatkan konflik yang berkepanjangan berpotensi mempengaruhi permintaan dari negara-negara importir.

“Kalau ini berkepanjangan pasti akan berpengaruh. Negara-negara importir bisa saja mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi, terutama karena biaya logistik,” imbuhnya.

 

 

 

Tags: #2025#devisa#ekspor#Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia#minyak sawit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Patuhi ISPO, Industri Sawit Lindungi Pekerja Anak dan Perempuan

Patuhi ISPO, Industri Sawit Lindungi Pekerja Anak dan Perempuan

15 Januari 2026
Harga Referensi CPO Mei 2026 Tembus USD1.049,58 per Ton

Sawit Jadi Motor Utama Lonjakan Ekspor Indonesia di Semester I 2026

4 Agustus 2026
BPDP Gandeng ALPENBUN Perkuat Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI

BPDP Gandeng ALPENBUN Perkuat Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI

12 Februari 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?