Palmoil.id, Sampit-Solidaridad Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) c.q. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sukses menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) kolaboratif tata cara percepatan pengajuan dan entri data Surat Tanda Daftar Budidaya elektronik (e-STDB) untuk petani sawit swadaya dan kalangan industri kelapa sawit sebagai syarat dasar pengajuan program dari pemerintah, baik Sarana Prasarana (Sarpras) dan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Kegiatan ini juga didukung oleh Goodhope selaku perwakilan sektor swasta di Kotawaringin Timur yang berkolaborasi dengan Solidaridad mendampingi petani kelapa sawit swadaya di kecamatan Telaga Antang.
Selain mempercepat implementasi pendaftaran STDB elektronik dan memotong hambatan administratif bagi petani sawit swadaya, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengonsolidasikan draf Petunjuk Teknis (Juknis) pengajuan e-STDB tingkat kabupaten.
Dokumen regulasi tersebut kini disiapkan untuk mendapatkan pengesahan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kotim untuk menjamin kepastian hukum di lapangan.
Solidaridad mengidentifikasi bahwa salah satu tantangan terbesar di tingkat tapak adalah keterbatasan kompetensi staf dalam melakukan pemetaan spasial atau poligon lahan. Guna mengatasi kendala tersebut, bimbingan difokuskan pada pemberian pelatihan teknis intensif, mulai dari penginputan data tabular hingga simulasi pemetaan poligon menggunakan akun riil.
Kehadiran Juknis terstandar yang diinisiasi bersama Solidaridad diharapkan dapat memberikan acuan kerja yang seragam bagi seluruh petugas pemetaan.
Bupati Kotim, H. Halikinnor, SH., MM. mengatakan: “Sebagai salah satu wilayah perkebunan kelapa sawit terbesar di Kalimantan Tengah sinergi kuat antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim dan Solidaridad Indonesia untuk percepatan pendaftaran e-STDB adalah langkah nyata melindungi petani sawit swadaya.”
“Data poligon digital dengan presisi tinggi bukan sekadar syarat administrasi, tetapi modal kuat bagi Pemkab Kotim untuk memperjuangkan legalitas lahan petani sekaligus mendapatkan manfaat program dari Pemerintah Pusat, baik Sarpras, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), maupun sertifikasi ISPO. e-STDB adalah paspor petani swadaya menuju sawit yang legal, berkelanjutan, dan sejahtera.”
Para peserta Bimtek diarahkan secara langsung untuk mengoperasikan sistem e-STDB berbasis web guna meminimalkan kesalahan input data. Fokus pelatihan ditekankan pada validasi titik koordinat kebun untuk memastikan akurasi pemetaan dan menghindari tumpang tindih kawasan lahan petani swadaya.
Penguatan aspek teknis ini menjadi langkah krusial mengingat validitas data spasial merupakan syarat mutlak dalam proses verifikasi di tingkat kementerian.
Menanggapi kebutuhan akan standar operasional yang baku serta penguatan kapasitas SDM di tingkat kabupaten, Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, menekankan bahwa percepatan pendaftaran kebun sawit rakyat melalui sistem e-STDB merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi petani swadaya dalam rantai pasok global.
“Digitalisasi melalui e-STDB adalah fondasi penting bagi petani swadaya untuk mendapatkan pengakuan hukum serta menjadikan mereka sebagai aktor utama dalam ekosistem sawit yang lebih transparan dan berkelanjutan,” ujar Yeni dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026).
Agenda ini berhasil menyatukan pemahaman dan memfasilitasi sinergi antara petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, penyuluh lapangan (PPL) dari Kecamatan Telaga Antang, serta perwakilan koperasi tani.
Solidaridad juga menghadirkan narasumber ahli dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian serta Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah untuk memastikan keselarasan regulasi.
Melalui kontribusi strategis ini, Solidaridad berkomitmen memastikan integrasi data dan penguatan kapasitas mampu mendorong peningkatan kepatuhan petani terhadap standar keberlanjutan sawit nasional secara signifikan.
Dengan adanya panduan kerja yang seragam, tata kelola perkebunan rakyat akan berjalan lebih cepat dan adaptif terhadap tuntutan pasar global.
Sinergi erat ini diharapkan dapat terus berjalan secara berkesinambungan demi mewujudkan industri kelapa sawit yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan dan berkeadilan bagi para pekebun swadaya.



