Palmoil.id, Tangerang Selatan-Industri kelapa sawit Indonesia tengah diperkuat, tidak lagi bertumpu pada produksi bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan dan energi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan rantai nilai, hilirisasi, hingga arah investasi strategis industri sawit berbasis data dan kebutuhan nyata industri.
Upaya tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) “Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia” yang diselenggarakan Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Kamis (3/9).
FGD mempertemukan BRIN dengan asosiasi petani, pelaku industri, dan BUMN untuk melihat kondisi serta kebutuhan industri sawit secara menyeluruh, mulai dari perkebunan rakyat, peningkatan produktivitas, pengembangan produk turunan, pemanfaatan limbah dan biomassa, hingga peluang sawit sebagai bahan baku energi berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan FGD menjadi bagian dari upaya memperoleh gambaran empiris mengenai sejauh mana hasil riset dan inovasi telah dimanfaatkan dalam aktivitas industri nasional.
“Kami ingin menjalankan konsolidasi langsung dengan pelaku industri dan pengusaha, apakah dalam aktivitas mereka saat ini masih memakai hasil-hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan,” ujar Nugroho.
Menurutnya, masukan dari pelaku industri akan menjadi data referensi bagi pengembangan dashboard nasional Nusantara Analytic for Valuation, Innovation, Growth and Sovereign Industries (NAVIGASI) yang tengah disiapkan BRIN.
Melalui NAVIGASI, kata Nugroho, BRIN ingin mengukur intensitas pemanfaatan hasil riset, inovasi, dan hilirisasi dalam sistem industri nasional. Data tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar pengambilan kebijakan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Produktivitas Sawit Rakyat Jadi Perhatian
Dari sisi perkebunan rakyat, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, menekankan pentingnya pembenahan tata kelola sekaligus perlindungan terhadap perkebunan rakyat.
Ia menyebut produktivitas sawit rakyat saat ini masih sekitar 1,7-2 ton CPO/ha/tahun. Melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), produktivitas tersebut berpotensi meningkat menjadi 3-6 ton CPO/ha/tahun.
“Kalau itu berhasil, sawit rakyat akan menjadi penopang ketahanan energi dan pangan Indonesia,” ujarnya. Karena itu, menurutnya, tantangan replanting dan kepastian legalitas lahan menjadi bagian penting dalam penguatan perkebunan sawit rakyat.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatra Utara, Timbas Prasyad Ginting, mendorong agar agenda riset semakin berorientasi pada persoalan dan kebutuhan aktual industri.“Ke depan, riset harus bertanya kepada industri, apa yang dibutuhkan untuk diteliti,” ujarnya.
Ia juga mendorong penyusunan peta jalan jangka panjang industri sawit serta pemanfaatan teknologi seperti citra satelit, drone, dan smart plantation untuk menghasilkan data perkebunan yang lebih akurat.
Nilai Tambah Terbesar Ada di Hilir
Transformasi industri sawit juga membutuhkan penguatan sektor hilir. Kepala Divisi Project Management Office Downstream PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo), Muhammad Ansori Nasution, memaparkan strategi pengembangan industri hilir hingga 2029.
Menurutnya, selama ini bisnis sawit masih lebih kuat di sektor hulu, sementara potensi nilai tambah terbesar berada di sektor hilir. PalmCo karena itu mendorong keseimbangan antara bisnis hulu dan hilir. Produk turunan yang dikembangkan mencakup minyak goreng, margarin, biodiesel, hingga produk berbasis cocoa butter substitute.
Tidak hanya menghasilkan produk baru, limbah sawit juga diarahkan menjadi sumber nilai tambah melalui produksi biogas, compressed biogas (CBG), syngas, dan biochar.
“Limbah sawit bukan lagi menjadi beban, tetapi sumber energi baru yang dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus menopang target dekarbonisasi,” ungkap Ansori.
Salah satu potensi strategis yang mengemuka dalam FGD adalah pemanfaatan produk dan residu sawit untuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Lead Specialist Bioenergy and Biofuel PT Pertamina (Persero) Subholding Downstream, Sahkundiyar, menjelaskan bahwa sektor penerbangan merupakan salah satu sektor yang relatif sulit melakukan pengurangan emisi. Karena itu, SAF menjadi salah satu prioritas dalam upaya dekarbonisasi.
Sahkundiyar menjelaskan, Pertamina telah memproduksi SAF secara komersial di Kilang Cilacap dengan menggunakan used cooking oil (UCO).
Pengembangan berikutnya mulai diarahkan pada bahan baku lain berbasis sawit, termasuk Palm Oil Mill Effluent (POME) dan produk samping sawit.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam rantai pasok SAF global karena ketersediaan biomassa sawit yang melimpah. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan pemenuhan standar keberlanjutan internasional pada seluruh tahapan rantai pasok



