Palmoil.id, Bengkulu– Ada pengalaman panjang di balik setiap kebun kelapa sawit rakyat.
Namun, pengalaman saja belum cukup untuk menjawab tantangan perkebunan yang semakin kompleks. Data, teori, dan praktik teknis dibutuhkan agar setiap keputusan di kebun semakin tepat dan berujung pada peningkatan produktivitas serta pendapatan pekebun.
Persoalan itu menjadi semakin penting di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Rendemen minyak sawit dari kebun rakyat masih berada di kisaran 16–19 persen, tertinggal dari kebun perusahaan yang mampu mencapai 22–23 persen.
Kesenjangan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kapasitas pekebun melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P, mengatakan perbedaan rendemen tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang perbaikan dalam pengelolaan sawit rakyat.
“Rendemen yang berasal dari kebun yang dimiliki oleh perusahaan kisarannya 22 sampai 23 persen. Tetapi yang dimiliki oleh rakyat itu kisaran 16, 17, 18, 19, tidak pernah mencapai 20,” ujar Hari saat membuka pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu, Selasa (01/9/2026).
Pelatihan tersebut dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan berlangsung pada 27 Agustus–1 September 2026 dan secara total diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara.
Dari peserta Mukomuko, sebanyak 47 pekebun mengikuti pelatihan teknis budidaya, sementara 29 peserta mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen.
Menurut Hari, rendemen tidak semata-mata ditentukan ketika tandan buah segar (TBS) masuk ke pabrik. Kualitas dan potensi rendemen sudah ditentukan sejak kebun.
“Faktor rendemen itu dilihat dari mulai dari penyiapan bibitnya sampai dengan pengolahan dan penanganan pascapanen. Itu satu rangkaian,” katanya.
108 Ribu Hektare Sawit Rakyat
Mukomuko memiliki sekitar 108.000 hektare sawit rakyat dan sekitar 54.000 hektare perkebunan HGU. Daerah tersebut juga memiliki 15 pabrik dari sekitar 55 perusahaan pengolahan kelapa sawit yang beroperasi di Bengkulu.
Besarnya luas perkebunan membuat peningkatan produktivitas dan mutu sawit rakyat memiliki arti penting bagi perekonomian daerah. Sektor pertanian sendiri menyumbang sekitar 48,9 persen terhadap PDRB Mukomuko, dengan kelapa sawit menjadi salah satu penggeraknya.
Karena itu, menurut Hari, peningkatan rendemen harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kegiatan pertanian atau kegiatan perkebunan ini dari hulu sampai ke hilir merupakan satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Pelatihan SDMP 2026 menjadi bagian dari upaya tersebut. Pekebun tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga menjalani praktik dan kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah untuk melihat secara langsung penerapan pengelolaan perkebunan.
Bagi Hari, pembelajaran tersebut penting agar pengalaman pekebun dapat dipertemukan dengan pengetahuan teknis.
“Pengalaman lapangan silakan disoundingkan dengan teori dan lain sebagainya sehingga nantinya pelatihan ini bisa benar-benar memberikan output yang bagus,” katanya.
Pengalaman Ditambah Data dan Praktik
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan pelatihan bukan dimaksudkan untuk menggantikan pengalaman pekebun. Sebaliknya, pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan data, teori, dan praktik agar menghasilkan keputusan yang lebih baik.
“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Dr. Idum.
Menurut dia, penguatan sumber daya manusia menjadi penting karena kelapa sawit merupakan komoditas strategis dengan nilai ekonomi besar. Di sisi lain, pekebun menghadapi tantangan yang semakin beragam, mulai dari ketersediaan pupuk, perubahan iklim, perubahan suhu dan kelembapan, hingga ancaman El Niño dan kebakaran.
Persaingan juga datang dari minyak nabati lainnya, seperti minyak bunga matahari, kedelai, dan rapeseed.
“Banyak sekali PR yang masih menjadi bagian yang harus terus kita upayakan bersama-sama,” katanya.
Karena itu, peserta didorong memanfaatkan seluruh rangkaian pelatihan, mulai dari pembelajaran di kelas, praktik lapangan hingga field trip. Dengan cara tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat melihat bagaimana pengelolaan perkebunan diterapkan secara langsung.
“Harapannya adalah kita dalam mengelola sawit itu sendiri, apa yang kita kerjakan itu benar,” ujar Dr. Idum.
Ia menambahkan, dukungan BPDP dan Ditjenbun menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pekebun tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan perkebunan, termasuk di tengah kebijakan efisiensi dan pengetatan anggaran.
Peningkatan kemampuan pekebun diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Ilmu yang diperoleh harus diterapkan di kebun untuk memperbaiki produktivitas, kualitas TBS, rendemen, dan efisiensi pengelolaan.
Hari menilai, seluruh upaya tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu meningkatkan kesejahteraan pekebun. “Muaranya adalah pada peningkatan kesejahteraan, taraf hidup dan lain sebagainya,” jelas dia.



