Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

GAPKI Soroti Ancaman PKS Tanpa Kebun bagi Ekosistem Rantai Pasok Sawit

12 September 2026
in Headline, News
GAPKI Soroti Ancaman PKS Tanpa Kebun bagi Ekosistem Rantai Pasok Sawit

Forum Multipihak bertajuk "Memperkuat Rantai Pasok Sawit yang Transparan, Inklusif, dan Berkelanjutan" yang digagas United Nations Development Programme (UNDP) di Jakarta/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Jakarta-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyampaikan catatan kritis atas maraknya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tanpa kebun dalam Forum Multipihak bertajuk “Memperkuat Rantai Pasok Sawit yang Transparan, Inklusif, dan Berkelanjutan” yang digagas United Nations Development Programme (UNDP) di Jakarta.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Forum ini dihadiri jajaran Kemenko Perekonomian, kementerian terkait, asosiasi petani sawit, mitra pembangunan internasional, akademisi, dan masyarakat sipil.

Wakil Ketua Umum II GAPKI, Susanto, menegaskan bahwa industri kelapa sawit Indonesia merupakan penopang utama perekonomian nasional sekaligus sumber penghidupan jutaan petani dan pekerja.

“Transparansi, inklusivitas, dan keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan  keharusan di tengah dinamika pasar global yang semakin menuntut akuntabilitas dan tanggung jawab sosial lingkungan dari setiap rantai produksi kita,” ujar Susanto, Kamis (10/9/2026).

Transparansi berarti membangun sistem ketertelusuran terpercaya dari kebun hingga produk akhir. Inklusivitas menegaskan komitmen agar petani dan pekebun rakyat ditempatkan sebagai mitra sejajar.

Keberlanjutan menjadi fondasi jangka panjang agar industri terus tumbuh sesuai prinsip planet, people, prosperity tanpa mengorbankan hutan dan hak asasi manusia.

GAPKI berkomitmen mendukung ketiga pilar melalui penerapan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil), peningkatan kapasitas petani, digitalisasi rantai pasok, dan dialog terbuka.

PKS Non-Konvensional Dinilai Ganggu Ekosistem Sawit

Isu pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun diulas secara mendalam oleh Pengurus Bidang Sustainability GAPKI, Agam Fatchurrochman.

“Ekosistem sawit itu sebetulnya adalah ekosistem paling rapi dibandingkan dengan komoditas yang lain,” ujarnya.

Agam menyebut lebih dari 1.200 PKS, lebih dari 80 kilang pengolahan (refinery), dan lebih dari 150 negara tujuan ekspor merupakan bukti integrasi ekosistem yang sudah terbangun.

Namun, ia mengingatkan agar tata niaga yang sudah baik ini jangan sampai menjadi rusak karena kemunculan PKS tanpa kebun.

Agam memaparkan bahwa pencurian dan penjarahan Tandan Buah Segar (TBS) kini semakin marak. Bahkan tingkat pencurian di sejumlah kebun anggota GAPKI mencapai 50–60%.

Selaras dengan fenomena itu, Ia menyoroti kemunculan loading ramp atau peron liar yang mengubah kawasan kebun dari kondisi aman menjadi kawasan yang rawan konflik. Ada kecurigaan bahwa PKS tanpa kebun menjadi penadah hasil curian.  Menurutnya, persoalan ini memerlukan pengawasan bersama, tidak bisa ditangani sendiri oleh perusahaan.

Di samping itu, menurut Agam, akar masalah utama adalah ketimpangan kepatuhan (level playing field) antara PKS konvensional yang diperiksa rutin dan PKS non-konvensional yang pengawasannya minim. Mulai dari legalitas pendirian hingga metrologi dan tata niaga juga menjadi persoalan dan turut memengaruhi mutu produksi CPO nasional.

“Karena bahan baku dari berondolan cenderung berkadar Asam Lemak Bebas (FFA) lebih tinggi dan kualitasnya tidak konsisten,” ujar Agam.

Terkait loading ramp, data yang dikemukakan Aris Supratman dari GAPKI cabang Kalimantan Barat cukup mengejutkan. Dari 359 loading ramp yang teridentifikasi di Kalimantan Barat tahun 2025, hanya 97 saja yang sudah memiliki ijin. Mayoritas sebanyak 262 belum berijin.

GAPKI sangat menyadari bahwa loading ramp dibutuhkan petani sawit. Kendati demikian, loading ramp ini juga harus dikelola.

Perlu didaftar, diatur dan diawasi. Tidak bisa didirikan secara bebas oleh siapa saja dan di mana saja. GAPKI juga tidak menolak atau anti PKS tanpa kebun. Pendiriannya harus diatur dan ditata dengan baik.

Sebagai produsen sawit terbesar dunia dengan 61% produksi CPO global, Agam mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tuntutan ketertelusuran hingga tingkat kebun (tier 3) sesuai EUDR, RSPO, dan ISPO.

Ia mempertanyakan sejauh mana PKS non-konvensional menjalankan prinsip NDPE dan memenuhi ketertelusuran yang berlaku efektif 30 Desember 2026.

Menurutnya, poin-poin yang ditegaskan juga dalam EUDR ini perlu menjadi perhatian penting karena apabila diabaikan berpotensi mencoreng reputasi keberlanjutan sawit Indonesia.

“Sikap GAPKI jelas, kebebasan berusaha patut didukung karena ini adalah fondasi dari ekonomi di Indonesia. Tetapi kita tidak boleh permisif terhadap pasokan yang tidak jelas, merusak kualitas, yang membuka ruang pencurian, konflik, dan sebagainya,” lanjut Agam sambil menegaskan bahwa GAPKI mendukung kebebasan berusaha dan inklusivitas petani, namun menolak sikap permisif.

Ia juga mengusulkan aturan dan standar setara bagi seluruh entitas rantai pasok, termasuk AMDAL, UKL-UPL, dan PROPER, disertai ISPO yang konsisten, pemetaan traceability hingga tier 3, dan penguatan pengawasan lintas instansi.

Petani Swadaya Mendominasi, Terjebak Lingkaran Rantai Pasok Panjang

Peneliti PPKS, Ratnawati Nurkhoiry, memaparkan bahwa dari total 16,8 juta hektare perkebunan rakyat, sekitar 69% atau 4,7 juta hektare merupakan kebun petani swadaya (independent smallholder).

Petani swadaya menghadapi persoalan struktural berulang: legalitas lahan tidak jelas, sumber benih tak tertelusuri, produktivitas rendah, hingga rantai pemasaran panjang melalui agen atau loading ramp.

“Ini lingkaran setan,” ujar Ratnawati, menjelaskan bahwa produktivitas rendah menyebabkan pendapatan minim sehingga petani sulit keluar dari ketergantungan terhadap perantara.

Loading ramp muncul sebagai respons bisnis atas keterbatasan struktural petani kecil, namun semakin panjang rantai pemasaran, semakin kecil bagian nilai (farmer’s share) yang diterima petani.

Tercatat sekitar 442 unit PKS tanpa kebun di Indonesia, dengan risiko persaingan pasokan tidak sehat, meski juga membuka peluang harga lebih baik.

Riset PPKS di Sumatera Utara mengenai transformasi sebuah usaha dagang menjadi koperasi bersertifikasi RSPO menunjukkan peningkatan produktivitas dan pendapatan petani, serta penurunan risiko produksi hingga 55%. Ini membuktikan perbaikan tata kelola loading ramp adalah peluang nyata bagi kesejahteraan petani swadaya.

Perspektif RSPO: Loading Ramp Perlu Diatur, Bukan Dihilangkan

M.Windrawan Inatha, Strategic Advisor CECT Universitas Trisakti berlatar belakang RSPO, menegaskan peran loading ramp sulit dihilangkan mengingat fungsi ekonomi-sosialnya bagi petani kecil.

“Fungsi-fungsi begitu yang mungkin akan susah kita hilangkan, kecuali diatur. Jadi si loading ramp-nya yang kita akan atur,” ujarnya, mencontohkan akses pembiayaan informal berupa pinjaman cepat yang sulit diperoleh petani dari lembaga keuangan formal.

Windrawan memaparkan bahwa dari sekitar 3,22 juta pekebun sawit, baru 1,54 juta yang memiliki STDB, sementara kepatuhan ISPO masih di bawah 2%.

Ia mendorong loading ramp masuk sistem traceability resmi melalui standardisasi bukti transaksi agar tidak menjadi celah hasil pencurian, sembari mengutip posisi KPPU tahun 2020 yang menyatakan PKS tanpa kebun dapat mendorong kompetisi sehat jika diatur memadai.

Ia mengusulkan ISPO bergeser dari mempersoalkan status kepemilikan kebun menjadi berfokus pada pengawasan supply base perusahaan, dengan pendekatan proyek percontohan bersama UNDP sebagai langkah awal.

Tags: #ekosistem#Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia#pabrik kelapa sawit#PKS tanpa kebun#rantai pasok

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Cegah Gejolak Minyak Goreng, Pemerintah Kebut Intervensi BUMN Pangan

Pantau Pasar Manis di Banyumas, Bulog Pastikan Pasokan Minyakita Tersedia

28 Juni 2026
Agrinas Palma Nusantara dan DPRD Sumut Perkuat Sinergi Pengelolaan Lahan Hasil Penertiban Kawasan Hutan

Agrinas Palma Nusantara dan DPRD Sumut Perkuat Sinergi Pengelolaan Lahan Hasil Penertiban Kawasan Hutan

18 Juni 2026
Uji Biodiesel B50 di Sektor Pertambangan Tunjukkan Hasil Positif

Guru Besar UGM Sambut Positif Pengembangan Biodiesel B50

8 Juli 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?