Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Budidaya

115 Pekebun Bengkulu Selatan Ikut Pelatihan Panen dan Pascapanen untuk Dongkrak Pendapatan

14 September 2026
in Budidaya, Headline
115 Pekebun Bengkulu Selatan Ikut Pelatihan Panen dan Pascapanen untuk Dongkrak Pendapatan

Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen bagi pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Bengkulu-Meningkatkan pendapatan dari kebun sawit tidak selalu harus dilakukan dengan menambah luas lahan, memperbanyak pupuk, atau meningkatkan input produksi.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Ada satu hal yang kerap menentukan nilai ekonomi hasil kebun sejak dari awal, yakni ketepatan panen dan penanganan tandan buah segar (TBS).

Panen pada tingkat kematangan yang tepat, pengumpulan brondolan, hingga kecepatan pengangkutan TBS ke pabrik kelapa sawit (PKS) menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas buah sekaligus mempertahankan potensi rendemen.

Pesan tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen bagi 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Ir. Hartono, M.Si., mengatakan pekebun perlu memahami kapan TBS berada pada kondisi terbaik untuk dipanen. Menurutnya, waktu panen berkaitan langsung dengan upaya mendapatkan kandungan minyak yang optimal sekaligus menjaga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah.

“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” kata Hartono saat membuka pelatihan di Bengkulu, Selasa (8/9/2026).

Brondolan Jadi Penanda Kematangan

Hartono menjelaskan, munculnya brondolan dapat menjadi salah satu indikator bahwa TBS telah memasuki tingkat kematangan yang sesuai untuk dipanen. Pada fase tersebut, pembentukan minyak telah optimal sehingga buah siap dipanen.

Sebaliknya, membiarkan TBS terlalu lama di kebun tidak serta-merta meningkatkan kandungan minyak. Kondisi tersebut justru berpotensi meningkatkan asam lemak bebas (ALB) yang dapat menurunkan kualitas minyak dan pada akhirnya berdampak terhadap nilai ekonomi TBS.

“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” ujarnya.

Karena itu, menurut Hartono, disiplin terhadap rotasi panen menjadi bagian penting dalam menjaga mutu hasil kebun. Pekebun tidak hanya perlu memastikan buah dipanen matang, tetapi juga menghindari keterlambatan panen yang dapat merugikan.

Persoalan tidak berhenti setelah tandan dipotong. Penanganan TBS dan brondolan juga harus dilakukan dengan baik. Brondolan perlu dikumpulkan secara optimal, TBS segera diangkut, serta ketertelusuran hasil panen dijaga hingga sampai ke PKS.

Penanganan yang kurang tepat setelah panen dapat menyebabkan kehilangan hasil sekaligus menurunkan kualitas TBS.

SDM Jadi Penentu Produktivitas Kebun

Hartono menegaskan produktivitas sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan, bibit unggul, dan pupuk. Kompetensi pekebun menjadi faktor penting agar potensi setiap hektare kebun dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ungkap dia.

Ia mendorong pekebun memadukan pengalaman yang telah dimiliki dengan pengetahuan serta teknologi baru. Kemampuan tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan teknologi, kondisi iklim, dan tuntutan keberlanjutan sektor perkebunan.

“Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.

Potensi Sawit Bengkulu Harus Diikuti Peningkatan Kualitas

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., mengatakan peningkatan kesejahteraan pekebun tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan jumlah produksi. Kemampuan mengelola panen dan pascapanen juga memiliki peran penting.

Sri Herlin yang hadir mewakili Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyebut luas perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu telah mencapai lebih dari 450.000 hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 300.000 hektare merupakan perkebunan rakyat.

Khusus Bengkulu Selatan, daerah ini berada di urutan keempat dalam produksi dan luas areal sawit setelah Mukomuko, Bengkulu Utara, dan Seluma.

“Bengkulu Selatan menyumbang lebih dari 80.000 ton CPO per tahun,” katanya.

Besarnya potensi tersebut, menurut Sri Herlin, perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas pekebun dalam mengelola kebun maupun hasil panen. Penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas TBS, sekaligus memperbaiki pendapatan pekebun.

“Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik. Dengan begitu, penghasilan Bapak Ibu juga akan semakin membaik,” ujarnya.

Ia berharap program pengembangan SDM yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Pertanian tersebut dapat terus berlanjut di Bengkulu.

Perbaiki Cara Panen, Bukan Hanya Menuntut Harga

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, mengatakan pelatihan tersebut menjadi momentum bagi pekebun untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki praktik panen di kebun masing-masing.

Menurutnya, kualitas panen turut menentukan rendemen dan nilai jual TBS. Karena itu, pekebun perlu memastikan buah dipanen pada tingkat kematangan yang tepat.

“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik. Tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen. Setelah mengikuti pelatihan ini, mari kita lakukan cara dan waktu panen yang terbaik sehingga rendemen bisa mencapai tingkat yang tinggi,” jelas dia.

Binagransyah berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan. Pekebun diharapkan langsung menerapkannya di kebun sekaligus membagikan pengetahuan tersebut kepada pekebun lainnya.

“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri. Transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan, karena pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan kebun sawit,” tuturnya.

Pelatihan Panen dan Pascapanen tersebut diikuti 115 pekebun Bengkulu Selatan dalam empat kelas. Kegiatan berlangsung pada 8–12 September 2026 dan diselenggarakan AKPY dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun Kementerian Pertanian.

Bagi Hartono, peningkatan kompetensi pekebun merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sawit rakyat. Kebun yang produktif tidak hanya membutuhkan lahan, tanaman, dan input produksi, tetapi juga pekebun yang mampu mengambil keputusan secara tepat.

“Keberhasilan kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan yang dimiliki. Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar,” kata dia.

 

Tags: #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta#Badan Pengelola Dana Perkebunan#Bengkulu#brondolan#pendapatan#Tandan Buah Segar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Dari Kebun Ke Energi Masa Depan: Asian Agri dan Apical Soroti Manfaat Kelapa Sawit

Dari Kebun Ke Energi Masa Depan: Asian Agri dan Apical Soroti Manfaat Kelapa Sawit

20 Maret 2026
Babak Baru Tata Kelola Karbon Pasca Perpres 110/2025, Pemkab Kukar dan Solidaridad Dorong Akselerasi Perkebunan Rendah Emisi

Babak Baru Tata Kelola Karbon Pasca Perpres 110/2025, Pemkab Kukar dan Solidaridad Dorong Akselerasi Perkebunan Rendah Emisi

25 Juni 2026
Riset Harus Mampu Hadirkan Inovasi Dorong Kemajuan Industri Sawit Berkelanjutan

Riset Harus Mampu Hadirkan Inovasi Dorong Kemajuan Industri Sawit Berkelanjutan

22 Juli 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?