Palmoil.id, Tagerang Selatan-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan penelitian katalisis untuk mengoptimalkan pemanfaatan trigliserida sebagai bahan baku energi terbarukan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN, Kiky Corneliasari Sembiring, menjelaskan, trigliserida dalam minyak nabati berpotensi diolah menjadi berbagai bahan bakar, seperti bensin hijau (green gasoline), diesel hijau (green diesel), dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel).
“Karbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui siklus pertumbuhan tanaman yang relatif singkat. Pemanfaatan karbon terbarukan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi berkelanjutan,” ujar Kiky dalam Webinar KATALIS TALKS Series 3: International Collaboration yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (20/10).
Terdapat beberapa metode konversi trigliserida. Kiky menjelaskan, metode tersebut meliputi transesterifikasi, hydroprocessing, pirolisis, dan hidrolisis. Hidrolisis memecah trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol yang selanjutnya dapat diolah menjadi hidrokarbon.
Pengujian hidrolisis minyak sawit dilakukan selama 20 menit pada rentang suhu 170 hingga 330 derajat Celsius. Hasilnya menunjukkan bahwa perolehan asam lemak meningkat seiring kenaikan suhu, hingga mendekati 90 persen pada suhu 300 derajat Celsius.
Penelitian ini juga mengembangkan katalis berbasis nikel–timah dengan penyangga karbon aktif. Katalis tersebut dikembangkan sebagai alternatif penggunaan katalis berbasis logam mulia.
“Pengembangan tersebut bertujuan menghasilkan katalis yang lebih ekonomis, sekaligus meningkatkan kinerja dan stabilitas proses konversi minyak nabati. Kami mengeksplorasi katalis berbasis nikel sebagai alternatif yang lebih ekonomis,” ujar Kiky.
Dalam pengujian deoksigenasi minyak sawit RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil), diperoleh sekitar 85 persen hidrokarbon dan 15 persen asam lemak. Hasil ini menunjukkan potensi pengembangan katalis untuk mengkonversi minyak nabati menjadi hidrokarbon.
Selain minyak nabati, Kiky menyoroti potensi minyak jelantah dan bahan baku nonpangan lainnya untuk produksi bahan bakar nabati (biofuel). Pemanfaatan bahan tersebut dapat meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Dalam perbandingan yang dipaparkan, bahan bakar dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram CO₂ ekuivalen per megajoule, lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet fosil yang mencapai sekitar 89 gram CO₂ ekuivalen per megajoule.
Angka tersebut menunjukkan potensi penurunan emisi sekitar 80 persen dalam skenario yang digunakan.
Kiky menjelaskan bahwa besarnya penurunan emisi bergantung pada jenis bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, dan metode perhitungan emisi.
Melalui penelitian ini, BRIN mengembangkan teknologi katalisis untuk mengolah sumber karbon terbarukan menjadi produk energi bernilai tambah.
Optimalisasi katalis dan proses konversi diharapkan dapat mendukung produksi bahan bakar nabati (biofuel) yang lebih efisien dan berkelanjutan.



