Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Guru Besar USU: Sawit Bukan Pemicu Banjir dan Tanah Longsor Sumatera, Tapi Ekofisiologis

18 Maret 2026
in Headline, Lingkungan
Laba Bersih ANJ Tumbuh 251,9 Persen di Kuartal I 2025

Perkebunan kelapa sawit PT Austindo Nusantara Jaya/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Medan– Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akhir tahun lalu terjadi akibat tata kelola lahan yang tidak memperhatikan aspek ekofisiologi tanaman.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim bisa diminimalisir jika tata kelola lahan, baik untuk tanaman hutan maupun perkebunan, memperhatikan aspek interaksi antara fungsi fisiologis dengan kondisi lingkungan fisik.

“Interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dengan kondisi lingkungan fisiknya tertuang dalam kriteria kelas kesesuaian lahan, baik di lahan mineral, maupun di lahan gambut,” kata Prof Dr Ir Abdul Rauf, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), dalam diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan, Selasa (10/2/2026).

Prof Abdul Rauf menegaskan, tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya atau ekofisiologinya tidak sesuai, akan merusak lingkungan. Semua jenis tanaman akan seperti itu. Karena itu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor akhir tahun lalu di Indonesia, tidak serta merta karena budidaya salah satu tanaman, misalnya kelapa sawit.

“Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Nah ketika tidak ada kesesuaian inilah, kerusakan lingkungan terjadi. Ketidaksesuain ekofisiologis itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining,” kata Prof Rauf.

Paparan Prof Abdul Rauf yang dikenal sebagai pakar konservasi tanah dan air disampaikan dalam Diskusi Ilmiah dengan tema “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra”.

Selain Prof Abdul Rauf, ikut hadir sebagai pembicara adalah Guru Besar Fakultas Pertanian USU lainnya yaitu Prof Ir Diana Chalil, MSi, PhD dan Deputi Bidang Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi,

Klimatologi, dan Geofisika) Dr Ardhasena Sopaheluwakan. Selain para pakar dan akademisi , Diskusi Ilmiah tersebut juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, serta petani kelapa sawit.

“Kalau yang disalahkan sebagai penyebab bencana adalah perkebunan kelapa sawit, tidak tepat. Misalnya di Sumatra Utara, perkebunan kelapa sawit sudah ada sejak 1911. Dan pada 1938, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatra sudah mencapai 90 ribu hektat,” katanya.

Kata Prof Rauf, tanaman kelapa sawit banyak memiliki karakteristik yang justru baik bagi bagi kelestarian lingkungan.

“Kebun sawit memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air signifikan. Setiap pohon dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari. Kebun sawit dewasa mampu menyerap air hujan rerata setara 43.500 liter per hari.

“Kebun sawit yang dikelola dengan baik pada kelas lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengkonservasi tanah dan air,” ujar Prof Abdul Rauf.

Dicontohkan Prof Abdul Rauf, sistem perakaran serabut yang rapat menjadikan tanah di bawah tegakan sawit menjadi gembur. Ini menjadikan area peresapan air berbentuk cembung menyerupai mangkok besar sebagai tandon air tanah.

Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto yang hadir dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia, mengatakan paparan Prof Dr Abdul Rauf memberikan pemahaman yang utuh tentang akar penyebab terjadinya bencana di Pulau Sumatra akhir tahun lalu.

Selain sebagai dampak perubahan iklim, illegal logging dan illegal planting menjadi penyebab terjadinya bencana alam. Ditambah lagi, pembukaan perkebunan yang ilegal dilakukan tanpa memperhatikan ekofisiologi tanaman.

“Memang harus ditertibkan pembukaan lahan ilegal. Dan ketika membuka kebun secara legal pun, tetap harus memperhatikan ekofisiologi tanaman,” jelas Kacuk.

Kacuk sependapat dengan Prof Rauf bahwa tanaman kelapa sawit bukan penyebab bencana banjir dan tanah longsor. Karena ada wilayah yang di hulunya tidak ada perkebunan kelapa sawit, seperti Bahorok dan Simangulampe di Sumatra Utara, juga pernah terjadi banjir bandang.

“Diskusi ilmiah seperti ini akan membuka pemahaman yang komprehensif mengenai akar penyebab terjadinya sebuah bencana. Sangat kompleks dan tidak mungkin sebuah bencana terjadi hanya disebabkan oleh satu faktor,” ungkap Kacuk.

Tags: #Aceh#banjir#ekofisiologis#kelapa sawit#perubahan iklim#Universitas Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

PalmCo Percepat Proyek Gas Biomethane dari Limbah Sawit, Dorong Ketahanan Energi dan Tekan Emisi

PalmCo Percepat Proyek Gas Biomethane dari Limbah Sawit, Dorong Ketahanan Energi dan Tekan Emisi

19 April 2026
BPDP Gelar Bimtek ALEXIA untuk Implementasi Sistem Pungutan Ekspor Digital

BPDP Gelar Bimtek ALEXIA untuk Implementasi Sistem Pungutan Ekspor Digital

1 April 2026
Harga CPO Jatuh di Awal Januari 2026

B50 Diproyeksikan Tingkatkan Nilai Tambah CPO Jadi Rp23,49 Triliun

16 Juli 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?