Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Ekspor Minyak Sawit Capai 32,3 Juta Ton pada 2025

25 Maret 2026
in Headline, News
Ketua Umum GAPKI Ungkap Tiga Strategi Hadapi Tantangan Industri Sawit

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Jakarta-Ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat – Israel, dan Iran, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan energi global.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Di tengah situasi tersebut, Indonesia memilih memperkuat fondasi domestik dengan mempercepat agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Strategi ini tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka ruang besar bagi komoditas lain seperti singkong sebagai bahan baku energi masa depan.

Dengan basis produksi yang kuat dan pasar ekspor yang tetap berjalan, Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang relatif kokoh menghadapi gejolak global.

Salah satu komoditas yang menjadi penopang utama adalah minyak sawit. Pada 2025, produksi crude palm oil (CPO) Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyebut produksi sawit nasional tahun lalu mencapai angka yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

“Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu nah 56 juta.” kata Eddy, Rabu (11/03/2026)

Data menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, naik sekitar 7,5 persen dibanding 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton.

Kenaikan ini turut didukung kondisi cuaca yang baik sepanjang tahun serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya sehingga petani lebih intensif merawat kebun.

Di sisi pasar global, permintaan ekspor juga masih kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tumbuh 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton. Harga minyak sawit yang relatif lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain menjadi faktor pendorong utama.

Meski konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia hingga kini masih berjalan.

“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit masih ekspornya masih jalan. Walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa. Kenaikan biaya logistik dengan insurance itu kira-kira 50 persen kenaikannya.” ungkapnya

Menurut Eddy, meskipun ada indikasi penurunan permintaan baru akibat kenaikan biaya transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi dan pengiriman masih berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.

Di dalam negeri, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel.

Pada 2025, konsumsi domestik mencapai 24,7 juta ton, naik sekitar 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri meningkat hingga 12,7 juta ton, naik sekitar 10,9 persen.

Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini implementasi program berada pada bauran B40, dengan peningkatan ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang.

Eddy melanjutkan, peningkatan program biodiesel harus diiringi dengan peningkatan produksi agar tidak mengganggu keseimbangan ekspor.

“Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” ungkapnya

Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong. Komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk mendukung bauran energi nasional.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga mengatakan, potensi singkong Indonesia sangat besar untuk mendukung ketahanan energi.

“Karena kita tahu sekarang risiko kekurangan energi kita sangat besar karena adanya perang di Timur Tengah itu. Nah oleh karena itu tentu pemerintah menginginkan semua potensi yang bisa memproduksi energi itu dioptimalkan.” jelas Arifin.

Saat ini produksi singkong nasional mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan dukungan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih bisa ditingkatkan secara signifikan.

Menurut Arifin, kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari singkong, maka diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar.

“Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan antara lima sampai tujuh kilogram singkong segar.” ujarnya.

Kementerian Pertanian saat ini meminta pelaku industri dan petani untuk menyiapkan rencana produksi agar komoditas ini dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.

“Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian dikonversi menjadi bioetanol.” imbuhnya.

Kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas nasional.

Langkah memperkuat swasembada pangan dan energi pun menjadi strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan ekonomi tetap tangguh, bahkan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.

Tags: #2025#CPO#ekspor#Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia#geopolitik#minyak sawit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng ke 33,2 Juta KPM

Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng ke 33,2 Juta KPM

19 Maret 2026
GAPKI Sosialisasi Tempat Kerja Tanpa Kekerasan dan Pelecehan

GAPKI Sosialisasi Tempat Kerja Tanpa Kekerasan dan Pelecehan

20 Januari 2026
INSTIPER dan BGA Luncurkan Traktor Autonomous Pemupuk Sawit, Efisiensi Biaya Turun hingga 60 Persen

INSTIPER dan BGA Luncurkan Traktor Autonomous Pemupuk Sawit, Efisiensi Biaya Turun hingga 60 Persen

30 April 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?