Palmoil.id, Ketapang-Program pemberdayaan masyarakat di Desa Biku Sarana Kecamatan Jelai Hulu dan Desa Sengkuang Merabong, Kecamatan Manis Mata Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus diperkuat melalui pengembangan budidaya lele berbasis teknologi dan penguatan UMKM lokal.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, program ini berfokus pada peningkatan kapasitas kelompok budidaya serta pengolahan produk turunan ikan lele guna mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan terbaru mencakup pelatihan penyegaran pembuatan pakan alternatif untuk dua kelompok budidaya lele, dengan total anggota 15 orang.
Pelatihan difasilitasi oleh narasumber dari Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengolah bahan baku lokal menjadi pakan lele yang lebih ekonomis dan sesuai kebutuhan nutrisi ikan.
Selain pelatihan, kelompok budidaya juga menerima bantuan mesin pembuat pelet pakan alternatif untuk mengolah bahan baku lokal menjadi pakan lele yang lebih efisien. Dukungan teknologi ini diharapkan dapat menekan biaya pakan yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kegiatan budidaya.
Saat ini, kelompok budidaya lele di Desa Biku Sarana mengelola enam kolam dengan kapasitas produksi lele sekitar 6000 bibit dengan rata-rata produksi mencapai 750 kg/ siklus.
Sementara kelompok di Desa Sengkuang Merabong mencatat produksi rata-rata 212 kg per siklus dari 2 kolam budidaya kapasitas masing-masing 1000 ekor.
Dengan peningkatan kapasitas dan dukungan teknologi, kedua kelompok diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi operasional.
Ketua TP PKK Desa Biku Sarana, Lili Yen menyampaikan apresiasinya atas peningkatan kapasitas ini.
“Pelatihan ini sangat membantu masyarakat kami untuk menjadi lebih mandiri. Mesin pelet dan pengetahuan baru ini membuka peluang bagi kelompok untuk mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil budidaya,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).
Selain penguatan budidaya, program ini juga mendukung pengembangan UMKM melalui kelompok Ibu-Ibu PKK Desa Biku Sarana yang mengelola UMKM Si Lele. Peserta memperoleh pelatihan pengolahan produk turunan ikan lele, termasuk resep baru Stick Si Lele yang lebih hemat biaya produksi dan menghasilkan tekstur lebih renyah serta kompetitif di pasar.
Salah satu peserta pelatihan UMKM, Risnawati, berbagi pengalamannya dalam mengikuti pelatihan.
“Kami senang sekali mendapatkan resep baru dan cara pengolahan yang lebih efisien. Produk kami jadi lebih enak dan punya peluang untuk dipasarkan lebih luas,” jelasnya.
Program budidaya lele dan UMKM Si Lele telah berjalan sejak tahun 2024, sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat desa.
Bantuan awal mencakup pengadaan unit kolam, bibit lele, pakan, pendampingan teknis budidaya, pelatihan pengolahan produk turunan, serta dukungan promosi melalui pameran UMKM. Program ini memiliki siklus produksi dua kali setahun dengan total produksi tahunan sekitar 2 ton.
Ke depan, kegiatan monitoring dan dukungan pemasaran akan tetap dilakukan guna memastikan keberlanjutan usaha budidaya dan pengembangan produk UMKM berbasis potensi lokal.
Perluasan Model Pemberdayaan ke Wilayah Lain
Model pemberdayaan serupa juga mulai diterapkan di Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, melalui inisiatif PT Sawit Mas Sejahtera (SMS), anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food (PT SMART Tbk).
Program ini menjangkau tiga desa yaitu Tanjung Baru, Beringin Jaya, dan Jajaran Lama, di mana masing-masing wilayah membentuk satu kelompok budidaya dengan total 30 peserta.
Program di Sumatra Selatan diawali dengan dukungan berupa 13 ribu ekor bibit lele per kelompok, disertai dengan fasilitas sarana produksi, pelatihan, dan pendampingan teknis budidaya.
Para peserta juga mempelajari metode Green Water System (GWS), yakni sistem pengelolaan kualitas air kolam yang membantu menjaga stabilitas lingkungan budidaya serta menekan risiko penyakit, sehingga operasional menjadi lebih efisien.



