Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

ITS Kembangkan Bensin Sawit Rendah Emisi

9 April 2026
in Headline, Inovasi
ITS Kembangkan Bensin Sawit Rendah Emisi

Peneliti dari ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc saat memamparkan proses dan hasil produksi Benwit dengan metode temuannya/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Surabaya– Isu krisis energi dan tuntutan untuk transisi energi hijau terus mendorong para akademisi untuk melahirkan inovasi alternatif.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Sebagai jawaban dan untuk menunjukkan dukungan terhadap inovasi energi yang terbarukan dan berkelanjutan, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc bersama timnya mengembangkan metode pembuatan bahan bakar alternatif berbahan baku kelapa sawit yang rendah emisi.

Melihat situasi geopolitik saat ini, di mana negara-negara di dunia, terutama ASEAN, sedang dihadapkan dengan kondisi krisis bahan bakar minyak (BBM). Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa inovasi bensin sawit (Benwit) karya tim peneliti ITS tersebut bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” tutur Bambang dalam keterangan resminya, Selasa, 7 April 2026.

Hosta yang merupakan ahli di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial menyampaikan bahwa penelitian yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini fokus pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi.

“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta yang meneliti bersama timnya.

Dalam prosesnya, tim ITS memanfaatkan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis.

Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berperan sebagai gunting molekuler untuk memecah trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan. Melalui pendekatan ini, konversi biogasoline dapat mencapai sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan lebih lanjut kemudian dilakukan dengan menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang.

Kombinasi ini bekerja secara sinergis, di mana NiO berperan dalam memutus rantai karbon, sementara CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen. Hasilnya, proses reaksi menjadi lebih efisien dengan penurunan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta peningkatan rendemen biogasoline hingga mencapai 83 persen.

Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, sebagian produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.

Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah.

“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar Hosta.

Tak hanya unggul secara teknis, Hosta sebagai ketua peneliti menjelaskan bahwa riset ini turut mempertimbangkan life cycle assessment (LCA) dalam prinsip terbarukan dan berkelanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses produksi biogasoline dari CPO memiliki jejak karbon yang sangat rendah, sehingga sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.

Sistem produksi yang menerapkan zero emission yang dikembangkan tim peneliti ITS ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Hosta juga menerangkan bahwa rancangan inovasinya tersebut didedikasikan untuk kemandirian teknologi Indonesia. Hingga saat ini, teknologi inovasinya sudah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang memiliki fleksibilitas modifikasi yang tinggi. Menurut Hosta, hal ini dipilih karena mesin pertanian lebih terbuka untuk adaptasi dengan bahan bakar alternatif.

“Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,” ungkap Hosta.

Lahirnya kemandirian teknologi dalam produksi bensin tentu akan menekan nilai jual kepada masyarakat. Diketahui juga bahwa hingga saat ini, produsen minyak dan gas di Indonesia masih bergantung pada alat dan mesin produksi milik pihak dari luar negeri, seperti Amerika Serikat.

Ke depannya, Hosta ingin terus mengembangkan inovasinya sehingga dapat terimplementasi lebih luas lagi dengan kapasitas produksi yang lebih besar. Dengan demikian, diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia. Hal tersebut juga turut menjawab SDGs poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany ST PhD mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, agar produk inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional.

“Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor,” tegasnya.

Tags: #Badan Pengelola Dana Perkebunan#bensin#emisi#Institut Teknologi Sepuluh Nopember#kelapa sawit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

PT Kencana Sawit Indonesia Fasilitasi Bocah Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepak Bola

PT Kencana Sawit Indonesia Fasilitasi Bocah Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepak Bola

28 Agustus 2026
Tekan Pencurian Sawit, PTPN IV Perkuat Kepedulian Masyarakat dan Pengamanan

Tekan Pencurian Sawit, PTPN IV Perkuat Kepedulian Masyarakat dan Pengamanan

27 September 2026
Mentan Minta Harga TBS Tak Boleh di Bawah Rp3.000 per Kg

Mentan Minta Harga TBS Tak Boleh di Bawah Rp3.000 per Kg

20 September 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?