Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Rugikan Petani, DPR Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan Ekspor Sawit Via DSI

1 Juni 2026
in Headline, News
DPR Minta Pemerintah Berikan Kepastian Hukum Bagi Pelaku Sawit Pasca Penertiban Kawasan Hutan

Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Jakarta- Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah segera mengevaluasi kebijakan ekspor sawit melalui sistem satu pintu yang dijalankan oleh BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Menurutnya, kebijakan yang bertujuan menata tata niaga dan memperkuat hilirisasi tersebut justru menimbulkan dampak serius terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani apabila implementasinya belum didukung kesiapan infrastruktur dan tata kelola yang memadai.

Firman mengaku menerima banyak keluhan dari petani sawit di berbagai daerah yang mengeluhkan anjloknya harga TBS setelah pemerintah mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu tersebut.

“Pemerintah harus memahami bahwa petani adalah pihak yang paling rentan terhadap perubahan kebijakan tata niaga. Ketika terjadi hambatan dalam rantai distribusi ekspor, dampak pertama yang dirasakan adalah turunnya harga TBS di tingkat petani,” ujar Firman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan harga TBS mengalami tekanan. Pertama, adanya potensi penumpukan stok CPO di pabrik akibat proses ekspor yang harus melalui satu pintu sehingga mengurangi kemampuan pabrik menyerap hasil panen petani.

Kedua, munculnya kekhawatiran di kalangan pelaku usaha mengenai potensi meningkatnya biaya distribusi dan administrasi yang pada akhirnya dapat mengurangi margin usaha. Kondisi tersebut mendorong pabrik melakukan penyesuaian harga pembelian TBS dari petani.

Ketiga, ketidakpastian mekanisme pelaksanaan kebijakan membuat sebagian pembeli luar negeri dan pelaku industri mengambil sikap menunggu sehingga aktivitas perdagangan melambat. Situasi ini berdampak pada terganggunya arus ekspor dan menekan harga di dalam negeri.

“Jangan sampai tujuan baik pemerintah untuk memperbaiki tata niaga sawit justru menimbulkan keresahan dan kerugian bagi petani. Sektor sawit selama ini menjadi penopang ekonomi nasional dan sumber penghidupan jutaan keluarga,” tegas politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.

Wakil Ketua KADIN itu juga meminta pemerintah menerapkan masa transisi yang memadai sebelum kebijakan dijalankan secara penuh. Ia menilai jalur ekspor yang selama ini berjalan sebaiknya tetap dibuka sementara waktu agar tidak terjadi gangguan pada rantai pasok.

Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan transparansi harga acuan, biaya layanan, serta mekanisme perdagangan yang diterapkan oleh DSI agar tidak menimbulkan persepsi negatif di kalangan petani maupun pelaku usaha.

“Pemerintah harus menjamin bahwa tidak ada kebijakan yang merugikan petani. Transparansi, kepastian usaha, dan kelancaran distribusi harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai petani menjadi korban dari proses penyesuaian kebijakan yang belum siap dijalankan,” kata Anggota Baleg DPR RI ini.

Ia juga mendorong peningkatan serapan domestik melalui program biodiesel dan penguatan industri hilir sebagai langkah menjaga keseimbangan pasokan serta stabilitas harga sawit nasional.

“Petani membutuhkan kepastian. Negara harus hadir melindungi mereka agar harga TBS tetap berada pada tingkat yang wajar dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani,” jelas dia.

 

Tags: #Danantara Sumberdaya Indonesia#DPR#ekspor#Firman Soebagyo#Komisi IV#Tandan Buah Segar#tata kelola

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Pemprov Kalsel Terus Perkuat Pembangunan Perkebunan Lewat Peningkatan Kualitas SDM Pekebun

Pemprov Kalsel Terus Perkuat Pembangunan Perkebunan Lewat Peningkatan Kualitas SDM Pekebun

2 Juli 2026
40 Juta Hektar Lahan Tak Produktif, Pupuk Hayati Dinosaurus Berbasis Bioteknologi jadi Solusinya

40 Juta Hektar Lahan Tak Produktif, Pupuk Hayati Dinosaurus Berbasis Bioteknologi jadi Solusinya

1 Agustus 2026
Program PERKASA Triputra Agro Persada Perkuat Peran Perempuan Petani Sawit di Berau

Program PERKASA Triputra Agro Persada Perkuat Peran Perempuan Petani Sawit di Berau

16 Agustus 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?