Palmoil.id, Yogyakarta-Limbah perkebunan kelapa sawit dan sisa budidaya jamur kini diolah menjadi produk bernilai melalui BAGCOM (Baglog Compost).
Inovasi ini memadukan limbah sawit dan baglog jamur menjadi vermikompos yang berpotensi menjadi sumber hara sekaligus pembenah tanah.
BAGCOM dikembangkan tim peneliti Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY STIPER) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2026.
Ketua Riset PDP BIMA Kemdiktisaintek sekaligus dosen AKPY, Julsento HP, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari persoalan limbah agroindustri yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Limbah kelapa sawit dan limbah baglog jamur yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan kini dapat dikonversi menjadi produk yang bermanfaat bagi petani dan mendukung pertanian berkelanjutan,” kata Julsento.
Bahan BAGCOM terdiri atas pelepah, daun, dan tandan kosong (jangkos) sawit yang dipadukan dengan spent mushroom substrate (SMS) atau limbah baglog jamur. Campuran tersebut diolah menggunakan teknologi biokonversi dengan bantuan cacing tanah Eisenia fetida.
Menurut Julsento, BAGCOM tidak sekadar mengubah limbah menjadi kompos, tetapi membangun rantai pemanfaatan limbah agar residu sawit dan budidaya jamur dapat kembali digunakan untuk mendukung produksi pertanian.
Limbah Jadi Bernilai
BAGCOM dikembangkan dengan konsep ekonomi sirkular (circular economy) dan zero waste plantation. Limbah diposisikan sebagai bahan baku yang masih memiliki nilai, kemudian dikembalikan ke sektor pertanian dalam bentuk produk yang bermanfaat.
“Pengembangan BAGCOM tidak semata-mata untuk menghasilkan pupuk organik. Kami ingin membangun model pengelolaan limbah agroindustri yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomis,” ujar Julsento.
Proses pembuatan dimulai dengan mengeringanginkan dan mencacah limbah sawit serta SMS. Bahan kemudian dikomposkan selama 14 hari, sebelum diinokulasi Eisenia fetida dan menjalani proses vermikomposting sekitar 60 hari.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Tropical Plantation Journal Vol. 5 No. 2 (2026) menunjukkan peningkatan kandungan hara yang signifikan.
Nitrogen total meningkat dari 64,33 menjadi 217,67 mg/kg, fosfor dari 90,33 menjadi 305,00 mg/kg, dan kalium dari 206,67 menjadi 697,67 mg/kg. Rata-rata peningkatan ketiga unsur tersebut mencapai 237–238 persen.
Indeks kesuburan tanah juga meningkat dari 711,00 menjadi 2.400,33 mg/kg. Sementara pH berada pada angka 7,70, atau kondisi netral hingga sedikit basa yang mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Julsento menilai hasil tersebut menunjukkan manfaat ganda vermikomposting. “Kita tidak hanya mengurangi residu agroindustri, tetapi juga menghasilkan material yang memiliki nilai guna bagi tanah dan tanaman,” katanya.
Menuju Hilirisasi
BAGCOM selanjutnya diarahkan sebagai bahan pembenah tanah untuk tanaman perkebunan, hortikultura, dan pembibitan (nursery).
Produk ini dirancang dalam kemasan 1 kilogram hingga 20–25 kilogram untuk menjangkau rumah tangga, hobiis, pembibitan, petani perorangan, kelompok tani, hingga pelaku usaha skala besar.
Julsento mengatakan pengembangan BAGCOM juga menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.
“Harapannya, BAGCOM tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.
Bagi sektor sawit, pemanfaatan pelepah, daun, dan jangkos menjadi BAGCOM memperluas makna keberlanjutan. Residu kebun tidak hanya dikelola untuk mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga dikembalikan ke sistem produksi dan menghasilkan nilai ekonomi.
Kolaborasi AKPY STIPER dan UNS melalui PDP BIMA Kemdiktisaintek ini menjadi contoh penerapan ekonomi hijau, dengan menghubungkan pengelolaan limbah, penciptaan nilai tambah, dan keberlanjutan dalam satu rantai.
BAGCOM menunjukkan bahwa limbah bukan akhir dari proses produksi. Dengan inovasi dan teknologi, limbah sawit dan baglog jamur dapat diubah kembali menjadi bahan bernilai bagi pertanian.



