Palmoil.id, Makasar-Regenerasi dan profesionalisme pekebun menjadi salah satu kunci menjaga daya saing industri kelapa sawit Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta meningkatnya tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan yang berkelanjutan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Petani Sawit Kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 150 pekebun dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Pelatihan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) Tahun 2026 ini diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, mengatakan penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan pekebun yang adaptif terhadap perubahan zaman. Menurutnya, profesi pekebun saat ini tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi harus didukung pengetahuan ilmiah, teknologi budidaya, dan kemampuan menghadapi tantangan perubahan iklim.
“BPDP bersama Kementerian Pertanian sangat serius meningkatkan kualitas SDM perkebunan. Tahun ini sekitar 15.900 petani dilatih melalui sekitar 530 kelas pelatihan di seluruh Indonesia dengan dukungan anggaran hampir Rp250 miliar. Selain pelatihan, BPDP juga memberikan beasiswa bagi anak-anak pekebun sebagai bagian dari regenerasi SDM sawit nasional,” ujarnya.
Sri Gunawan menilai pelatihan menjadi sarana mempercepat transformasi pekebun menuju pelaku usaha perkebunan yang profesional. Materi yang diberikan mencakup penggunaan bibit unggul bersertifikat, teknik budidaya sesuai Good Agricultural Practices (GAP), pengelolaan tanah sehat, pemupukan tepat, hingga strategi mitigasi dampak El Niño agar produktivitas kebun tetap terjaga.
“Selama ini banyak petani belajar dari pengalaman tetangga atau kebiasaan lama. Melalui pelatihan ini mereka memperoleh dasar ilmiah sehingga mampu mengambil keputusan budidaya yang lebih tepat dan efisien,” katanya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, SP, menyebut peningkatan kompetensi pekebun merupakan fondasi penting untuk memperkuat daya saing sawit Sulawesi Selatan.
Sejak 2022 hingga 2026, sebanyak 1.681 pekebun, keluarga pekebun, dan tenaga teknis sawit di Sulawesi Selatan telah mengikuti pelatihan yang didukung BPDP. Khusus Kabupaten Wajo, selama 2025–2026 ditargetkan sebanyak 459 orang memperoleh pelatihan.
Menurutnya, peningkatan kapasitas SDM harus berjalan seiring dengan penerapan teknologi budidaya, penggunaan bibit unggul bersertifikat, serta penguatan kelembagaan agar produktivitas dan kualitas tandan buah segar (TBS) terus meningkat.
“Pemerintah berkomitmen mendukung pembangunan subsektor perkebunan melalui peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi budidaya yang baik, serta pengembangan sumber daya manusia yang berkompeten,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si, mengatakan tantangan perkebunan sawit saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi hingga tuntutan pasar terhadap produk sawit berkelanjutan. Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan pekebun yang menguasai praktik budidaya modern, menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), menjaga kelestarian lingkungan, serta menghasilkan usaha perkebunan yang berdaya saing.
“Kami berharap para peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh, kemudian menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing dan menyebarkannya kepada pekebun lain sehingga manfaatnya semakin luas,” katanya.
Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan regenerasi pekebun sawit melalui pengembangan SDM lintas generasi. Selain membekali petani aktif dengan keterampilan teknis, BPDP turut membuka akses pendidikan tinggi melalui program Beasiswa SDM Sawit bagi putra-putri pekebun.
Dengan sinergi antara BPDP, Ditjenbun, AKPY, pemerintah daerah, serta para pekebun, diharapkan lahir generasi baru pelaku usaha sawit yang lebih profesional, melek teknologi, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mampu memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi tuntutan pasar global.



