Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Headline

Diversifikasi Produk Hilir Perkuat Nilai Tambah Industri Sawit

8 September 2026
in Headline, Inovasi
Kemenperin Pacu Hilirisasi Produk Sawit Beta Karoten

Komoditas kelapa sawit/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Tangerang Selatan- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan industri sawit nasional melalui diversifikasi produk hilir berbasis riset dan inovasi.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Pengembangan sawit dinilai perlu bergeser dari orientasi pada besarnya produksi komoditas menuju penciptaan nilai tambah melalui pengembangan berbagai produk yang memiliki pemanfaatan lebih luas.

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menekankan bahwa penguatan industri sawit perlu dilihat dari perspektif penciptaan nilai tambah. Sawit tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi sebagai platform untuk menghasilkan beragam produk melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi.

“Bukan berapa banyak sawit yang dihasilkan, tetapi penambahan nilainya. Perspektif tersebut membuka peluang untuk menempatkan sawit sebagai bagian dari ekosistem pengembangan produk dan industri berbasis inovasi. Dengan demikian, sawit berpotensi menjadi salah satu kekuatan industri masa depan Indonesia,” ujarnya.

Hal tersebut mengemuka dalam Sharing Session #18 Tahun 2026 bertajuk “Perluasan Diversifikasi Produk Hilir sebagai Strategi Penguatan Industri Sawit Indonesia” yang diselenggarakan Pusat Riset Teknologi Proses BRIN secara daring, Jumat (4/9).

Kegiatan ini menghadirkan Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Indra Budi Susetyo, dan Direktur Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia, Jenny Elisabeth. Keduanya membahas peluang pengembangan produk hilir sawit untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri nasional.

Indra menjelaskan, industri sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia dengan melibatkan lebih dari 17 juta tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung. Jika anggota keluarga turut diperhitungkan, sektor ini berdampak terhadap lebih dari 50 juta masyarakat serta memberikan efek pengganda bagi berbagai sektor.

Besarnya peran tersebut membuat pengembangan sawit perlu diarahkan tidak hanya pada produksi komoditas primer. Diversifikasi dan penguatan industri hilir berbasis teknologi diperlukan untuk memperluas pemanfaatan sawit sekaligus meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan.

Menurut Indra, karakteristik kimia minyak sawit memberikan peluang luas untuk menghasilkan berbagai produk turunan. Saat ini, konsumsi minyak sawit terbesar masih berada pada sektor pangan dan energi. Sementara itu, pemanfaatannya untuk oleokimia dasar, terutama pada produk perawatan diri, kosmetik, dan berbagai produk lainnya, masih relatif kecil.

“Padahal, potensi pengembangan produk berbasis sawit tidak berhenti pada sektor tersebut. Minyak sawit dapat dikembangkan lebih luas untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk pelumas dan material berbasis polimer yang memiliki penggunaan luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan ke depan adalah menghasilkan lebih banyak produk inovatif bernilai tambah. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sekaligus meningkatkan penyerapan minyak sawit dalam volume yang lebih besar.

Untuk itu, diperlukan penguasaan teknologi, pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta riset yang mampu menjawab tantangan industri secara berkelanjutan.

Kebutuhan penguatan teknologi tersebut mendorong munculnya gagasan pengembangan Center of Excellence for Oleochemicals (CoE Oleokimia). Gagasan ini dilontarkan Kelompok Riset 8 Teknologi Proses Produk Tanaman Industri (Industrial Crop Processing Technology) Pusat Riset Teknologi Proses BRIN.

Ketua Kelompok Riset, Lanjar, yang mewakili kelompok risetnya, menyampaikan gagasan tersebut sebagai upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi dalam pengembangan produk hilir berbasis minyak sawit.

Gagasan CoE Oleokimia dilandasi kebutuhan untuk mengintegrasikan kompetensi dan sumber daya riset dalam pengembangan teknologi oleokimia. Pusat unggulan tersebut diharapkan dapat mempertemukan kompetensi peneliti, infrastruktur riset, perguruan tinggi, serta mitra industri untuk mengembangkan teknologi dan produk oleokimia berbasis sawit secara lebih terpadu.

Pengembangan CoE juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan riset skala laboratorium. Integrasi tersebut diarahkan untuk mendorong translasi hasil riset menjadi teknologi dan produk bernilai tambah yang relevan dengan kebutuhan industri.

Dengan pendekatan tersebut, CoE Oleokimia dapat menjadi penghubung antara kegiatan riset dan pengembangan teknologi dengan kebutuhan, tantangan, serta peluang yang dihadapi industri. Sinergi antara kompetensi, infrastruktur, dan kebutuhan pasar menjadi penting agar hasil riset dapat bergerak menuju pemanfaatan yang lebih luas.

Selain oleokimia, sektor pangan masih menyediakan ruang diversifikasi yang besar. Direktur Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia, Jenny Elisabeth, menyebut secara global lebih dari 70 persen minyak sawit digunakan untuk produk pangan.

“Pemanfaatannya telah mencakup beragam produk, mulai dari minyak goreng, shortening, margarin, produk roti, confectionery, hingga pengganti lemak susu dan cocoa butter. Luasnya penggunaan tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan produk baru dengan karakteristik yang semakin spesifik,” ia menjelaskan.

Menurut Jenny, riset masih diperlukan untuk menghasilkan produk yang mampu menjawab tuntutan pasar yang terus berkembang. Pengembangan produk pangan berbasis minyak sawit antara lain perlu menghasilkan produk yang cost efficient dan memiliki functional properties yang sesuai.

“Aspek keamanan dan kesehatan produk juga menjadi perhatian. Pengembangan teknologi perlu menjawab isu kontaminan yang menjadi perhatian konsumen serta meminimalkan penggunaan trans fat dengan memanfaatkan keunggulan lemak sawit yang secara alami bebas trans fat,” ia menambahkan.

Di samping itu, Jenny melajutkan, aspek keberlanjutan (sustainability) semakin menentukan penerimaan produk di pasar global. Dengan demikian, inovasi produk tidak hanya dituntut menghasilkan fungsi dan efisiensi, tetapi juga menjawab tuntutan keberlanjutan yang berkembang di pasar.

Jenny juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi dan bahan pendukung untuk memperkuat kemandirian industri. Berbagai proses modifikasi minyak sawit masih membutuhkan penguasaan teknologi dan bahan pembantu proses (processing aid). Karena itu, riset dalam negeri pada aspek tersebut perlu terus didorong.

Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi produk hilir tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan potensi bahan baku.

Hilirisasi sawit membutuhkan penguasaan teknologi, kemampuan menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar, ketersediaan infrastruktur riset, hingga keterhubungan dengan industri sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dibangun secara bersamaan.

“Melalui pengembangan Center of Excellence for Oleochemicals, BRIN diharapkan dapat memperkuat sinergi antara riset, pengembangan teknologi, dan industri. Pusat unggulan tersebut dapat menjadi platform kolaborasi untuk mengintegrasikan kompetensi, infrastruktur, dan jejaring riset dalam menjawab tantangan pengembangan produk oleokimia sekaligus memperluas pemanfaatan minyak sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah,” ujarnya.

Kolaborasi BRIN, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci untuk mempercepat diversifikasi produk hilir sawit. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas nasional, tetapi juga memperkuat daya saing industri oleokimia Indonesia.

Tags: #Badan Riset dan Inovasi Nasional#industri sawit#minyak sawit#Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia#produk hilir

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Teladan Prima Agro akan Bagikan Dividen Rp 401,34 Miliar

Teladan Prima Agro akan Bagikan Dividen Rp 401,34 Miliar

29 April 2025
Kemenperin Pacu Hilirisasi Produk Sawit Beta Karoten

Harga TBS Sawit Plasma Riau Umur 9 Tahun Naik Jadi Rp 3.859 per Kg

8 Juli 2026
Pemerintah Dukung Peningkatan Ekspor dan Hilirisasi Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan

Wamenlu Tegaskan EUDR Tak Sejalan Prinsip Keberlanjutan Internasional

12 Desember 2025

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?