Palmoil.id, Luwuk- Produktivitas kebun kelapa sawit tidak boleh berhenti pada tanaman yang tumbuh baik atau produksi tandan buah segar (TBS) yang meningkat. Ujung dari seluruh proses budidaya harus bermuara pada satu hal: peningkatan pendapatan pekebun.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 186 peserta, terdiri atas pekebun dan penyuluh asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Pelatihan yang berlangsung pada 15–20 September 2026 di Luwuk itu diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP, MP, mengatakan peningkatan produktivitas sawit harus dilihat sebagai sebuah rangkaian. Budidaya menjadi fondasi produksi, tetapi hasil yang sudah diperoleh harus dijaga melalui panen yang tepat dan penanganan pascapanen yang baik.
“Semua ini merupakan satu rangkaian yang tidak bisa terpisahkan. Ketika kita memelihara sawit, golnya apa? Tandan buah segar. Ketika dipanen, maka juga harus cepat dibawa ke pabrik. Memanen pun harus tepat,” ujar Idum.
Produktivitas Bukan Sekadar Banyak Buah
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai berbagai aspek teknis budidaya, mulai dari persiapan lahan dan pemeliharaan tanaman hingga pengelolaan gulma, pengendalian hama dan penyakit, serta pemupukan.
Penguasaan terhadap aspek-aspek tersebut menjadi penting karena praktik budidaya menentukan pertumbuhan tanaman sekaligus potensi produksi kebun.
Namun, produksi yang sudah dibangun melalui budidaya dapat kehilangan sebagian nilainya apabila proses pemanenan tidak dilakukan sesuai kriteria atau TBS terlambat diangkut ke pabrik.
Karena itu, meskipun fokus pelatihan adalah teknis budidaya, peserta juga dibekali pemahaman mengenai panen dan pascapanen. Peserta diajak melihat produktivitas secara utuh, dari bagaimana tanaman dirawat hingga bagaimana hasil panen dipertahankan kualitas dan nilai ekonominya.
Bagi Idum, peningkatan produksi pada akhirnya harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan pekebun.
“Ketika kita naik kelas, produksinya meningkat. Produksinya meningkat artinya penghasilan kita bertambah. Maka salah satu jargon kita adalah Sawit Cuan,” katanya.
Dari Kelas Turun ke Kebun
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan juga dilengkapi field trip ke kebun PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) di Toili, Kabupaten Banggai.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan perkebunan dalam skala lapangan. Materi yang sebelumnya diterima secara teori dapat dibandingkan dengan praktik yang ditemui di kebun.
Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat penerapan teknis budidaya, pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun serta aspek yang berkaitan dengan panen.
Pembelajaran lapangan diharapkan membantu peserta memahami bahwa peningkatan produktivitas membutuhkan penerapan teknis secara konsisten, bukan hanya pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.
Idum mengatakan pengalaman lapangan penting untuk memperkuat pemahaman peserta sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori.
Dengan demikian, ketika kembali ke kebun masing-masing, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut sesuai kondisi kebun yang dikelola.
SDM Jadi Penggerak Produktivitas
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Banggai, Dewi Wahyuni Mang, mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mendorong produksi dan produktivitas sawit secara berkelanjutan.
Menurutnya, kemampuan pekebun dalam mengelola kebun akan menentukan seberapa efektif tanaman dan sarana produksi yang dimiliki dapat dimanfaatkan.
“Peningkatan SDM perkebunan kelapa sawit merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan menjadi prioritas dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan,” katanya.
Dewi juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan pelatihan sekadar sebagai kesempatan memperoleh pengetahuan atau sertifikat. Ilmu yang didapat harus diterapkan dan memberikan perubahan di kebun.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu dan menerapkannya di lingkungan masing-masing demi hasil yang lebih produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ilmu Pulang ke Kebun, Produktivitas Berujung Cuan
Pelatihan SDMP 2026 tersebut diarahkan untuk menghasilkan perubahan nyata di tingkat kebun. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi praktik, praktik yang baik diharapkan meningkatkan produksi, sementara hasil produksi harus dijaga kualitasnya agar memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.
Penguatan SDM sawit di Banggai juga akan berlanjut pada 2027. Pemerintah daerah telah memperoleh alokasi program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit untuk 158 peserta dan masih membuka peluang penambahan kuota.
Rangkaian program tersebut memperlihatkan bahwa produktivitas sawit bukanlah hasil dari satu tahapan saja. Budidaya menjadi fondasi, panen menentukan kualitas hasil, dan penanganan pascapanen ikut menjaga nilai TBS.
Pada akhirnya, keberhasilan peningkatan produktivitas tidak hanya diukur dari seberapa banyak TBS yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar nilai ekonomi yang dapat dipertahankan dan dinikmati pekebun.
Dari kebun yang dikelola lebih baik, produksi meningkat, TBS lebih bernilai, dan produktivitas diharapkan benar-benar berujung pada cuan bagi pekebun.



