Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
  • Home
  • News
  • Regulasi
  • Korporasi
  • Budidaya
  • Harga
  • Lingkungan
  • Inovasi
  • Smallholder
No Result
View All Result
Palmoil.id
No Result
View All Result
Home Budidaya

AKPY, Ditjenbun dan BPDP Dorong Peningkatan Rendemen Sawit Rakyat Mukomuko

11 September 2026
in Budidaya, Headline
AKPY, Ditjenbun dan BPDP Dorong Peningkatan Rendemen Sawit Rakyat Mukomuko

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman Hari saat membuka pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Palmoil.id, Bengkulu– Ada pengalaman panjang di balik setiap kebun kelapa sawit rakyat.

Baca Juga

130 Pekebun Simalungun Ikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik

BPDP Promosikan Industri Perkebunan Indonesia ke Pasar Global di TEI 2026

BPDP-Bea Cukai Kenalkan Sawit Berkelanjutan kepada Pelajar Bangka Belitung

Namun, pengalaman saja belum cukup untuk menjawab tantangan perkebunan yang semakin kompleks. Data, teori, dan praktik teknis dibutuhkan agar setiap keputusan di kebun semakin tepat dan berujung pada peningkatan produktivitas serta pendapatan pekebun.

Persoalan itu menjadi semakin penting di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Rendemen minyak sawit dari kebun rakyat masih berada di kisaran 16–19 persen, tertinggal dari kebun perusahaan yang mampu mencapai 22–23 persen.

Kesenjangan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kapasitas pekebun melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P, mengatakan perbedaan rendemen tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang perbaikan dalam pengelolaan sawit rakyat.

“Rendemen yang berasal dari kebun yang dimiliki oleh perusahaan kisarannya 22 sampai 23 persen. Tetapi yang dimiliki oleh rakyat itu kisaran 16, 17, 18, 19, tidak pernah mencapai 20,” ujar Hari saat membuka pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu, Selasa (01/9/2026).

Pelatihan tersebut dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan berlangsung pada 27 Agustus–1 September 2026 dan secara total diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara.

Dari peserta Mukomuko, sebanyak 47 pekebun mengikuti pelatihan teknis budidaya, sementara 29 peserta mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen.

Menurut Hari, rendemen tidak semata-mata ditentukan ketika tandan buah segar (TBS) masuk ke pabrik. Kualitas dan potensi rendemen sudah ditentukan sejak kebun.

“Faktor rendemen itu dilihat dari mulai dari penyiapan bibitnya sampai dengan pengolahan dan penanganan pascapanen. Itu satu rangkaian,” katanya.

108 Ribu Hektare Sawit Rakyat

Mukomuko memiliki sekitar 108.000 hektare sawit rakyat dan sekitar 54.000 hektare perkebunan HGU. Daerah tersebut juga memiliki 15 pabrik dari sekitar 55 perusahaan pengolahan kelapa sawit yang beroperasi di Bengkulu.

Besarnya luas perkebunan membuat peningkatan produktivitas dan mutu sawit rakyat memiliki arti penting bagi perekonomian daerah. Sektor pertanian sendiri menyumbang sekitar 48,9 persen terhadap PDRB Mukomuko, dengan kelapa sawit menjadi salah satu penggeraknya.

Karena itu, menurut Hari, peningkatan rendemen harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.

“Kegiatan pertanian atau kegiatan perkebunan ini dari hulu sampai ke hilir merupakan satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Pelatihan SDMP 2026 menjadi bagian dari upaya tersebut. Pekebun tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga menjalani praktik dan kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah untuk melihat secara langsung penerapan pengelolaan perkebunan.

Bagi Hari, pembelajaran tersebut penting agar pengalaman pekebun dapat dipertemukan dengan pengetahuan teknis.

“Pengalaman lapangan silakan disoundingkan dengan teori dan lain sebagainya sehingga nantinya pelatihan ini bisa benar-benar memberikan output yang bagus,” katanya.

Pengalaman Ditambah Data dan Praktik

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan pelatihan bukan dimaksudkan untuk menggantikan pengalaman pekebun. Sebaliknya, pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan data, teori, dan praktik agar menghasilkan keputusan yang lebih baik.

“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Dr. Idum.

Menurut dia, penguatan sumber daya manusia menjadi penting karena kelapa sawit merupakan komoditas strategis dengan nilai ekonomi besar. Di sisi lain, pekebun menghadapi tantangan yang semakin beragam, mulai dari ketersediaan pupuk, perubahan iklim, perubahan suhu dan kelembapan, hingga ancaman El Niño dan kebakaran.

Persaingan juga datang dari minyak nabati lainnya, seperti minyak bunga matahari, kedelai, dan rapeseed.

“Banyak sekali PR yang masih menjadi bagian yang harus terus kita upayakan bersama-sama,” katanya.

Karena itu, peserta didorong memanfaatkan seluruh rangkaian pelatihan, mulai dari pembelajaran di kelas, praktik lapangan hingga field trip. Dengan cara tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat melihat bagaimana pengelolaan perkebunan diterapkan secara langsung.

“Harapannya adalah kita dalam mengelola sawit itu sendiri, apa yang kita kerjakan itu benar,” ujar Dr. Idum.

Ia menambahkan, dukungan BPDP dan Ditjenbun menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pekebun tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan perkebunan, termasuk di tengah kebijakan efisiensi dan pengetatan anggaran.

Peningkatan kemampuan pekebun diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Ilmu yang diperoleh harus diterapkan di kebun untuk memperbaiki produktivitas, kualitas TBS, rendemen, dan efisiensi pengelolaan.

Hari menilai, seluruh upaya tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu meningkatkan kesejahteraan pekebun. “Muaranya adalah pada peningkatan kesejahteraan, taraf hidup dan lain sebagainya,” jelas dia.

 

Tags: #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta#Badan Pengelola Dana Perkebunan#Bengkulu#minyak sawit#rendemen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related News

Stock futures are flat ahead of Fed’s Jackson Hole symposium

12 Desember 2024
Perkuat Ekosistem Ekspor Komoditas Strategis, DSI Uji Coba Platform NADI

Perkuat Ekosistem Ekspor Komoditas Strategis, DSI Uji Coba Platform NADI

3 Oktober 2026
Uji Biodiesel B50 di Sektor Pertambangan Tunjukkan Hasil Positif

Luncurkan Mandatori Biodiesel B50, ESDM Tegaskan Kesiapan Indonesia Perkuat Kedaulatan Energi

11 Juli 2026

Link

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi

BROWSE BY TAG

#2025 #2026 #Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta #Andi Amran Sulaiman #Badan Pengelola Dana Perkebunan #biodiesel #budidaya #CPO #crude palm oil #ekspor #Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia #hilirisasi #Indonesia #Indonesian Sustainable Palm Oil #industri sawit #kebakaran hutan dan lahan #kelapa sawit #Kementerian Perdagangan #Kementerian Pertanian #laba bersih #Menteri Pertanian #minyak goreng #Minyakita #minyak sawit #PalmCo #pelatihan #pemerintah #Peremajaan Sawit Rakyat #perkebunan #petani sawit #Prabowo Subianto #Presiden #produksi #produktivitas #PT Agrinas Palma Nusantara #PT Astra Agro Lestari #PTPN IV #PT Sumberdaya Indonesia Berjaya #Riau #sertifikasi #Sinar Mas Agribusiness and Food #Tandan Buah Segar #UMKM Economy Strategy

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Budidaya
  • Regulasi
  • Harga
  • Inovasi
  • Lingkungan
  • Korporasi
  • Smallholder

© 2024 Palmoil.id - Informasi Berita.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?