Palmoil.id, Jakarta– Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat total ekspor produk sawit pada Mei 2026 hanya mencapai 1.996 ribu ton, turun 28,14 persen dibandingkan April sebesar 2.777 ribu ton.
Penurunan terjadi pada ekspor olahan minyak sawit yang hanya mencapai 1.423 ribu ton dari 2.041 ribu ton (-30,26 persen), ekspor CPO menjadi 31 ribu ton dari 153 ribu ton (-79,7 persen), ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 55 ribu ton dari 97 ribu ton (-43,4 persen).
Menurut negara tujuannya, penurunan ekspor pada Mei dibandingkan April antara lain terjadi untuk tujuan China sebesar 164 ribu ton (-30 persen), India sebesar 124 ribu ton (-60 persen), Afrika sebesar 140 ribu ton (-36 persen), EU sebesar 26 ribu ton (-5 persen), USA sebesar 78 ribu ton (-37 persen), Malaysia sebesar 49 ribu ton (-36 persen).
Kenaikan ekspor dijumpai untuk tujuan Rusia sebesar 86 ribu ton (+216 persen). Namun apabila dihitung secara kumulatif selama periode Januari-Mei, ekspor ke China 46 persen lebih tinggi dari tahun 2025, ke India 3 persen lebih tinggi, Afrika 14% lebih tinggi, EU 3 persen lebih tinggi, sebaliknya USA 8 persen lebih rendah dari tahun 2025.
“Meskipun demikian, secara kumulatif Januari-Mei 2026, total ekspor mencapai 13.320 ribu ton, lebih tinggi 10,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 12.080 ribu ton,” ungkap Mukti Sardjono Direktur Eksekutif GAPKI dalam keterangan resminya, Rabu (15/7/2026).
Nilai ekspor produk sawit pada Mei 2026 mencapai USD 2,49 miliar, turun dari USD 3,38 miliar pada April atau sebesar -26,3 persen.
Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam pada bulan Mei USD 1.453 per ton lebih rendah dari harga rata-rata bulan April sebesar USD 1.566 (-7,2 persen).
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, nilai ekspor mencapai USD 15,526 miliar, lebih tinggi 13,82 persen dari tahun 2025 sebesar USD 13,641 milliar.
Rata-rata harga CPO Cif Rotterdam selama Januari-Mei 2026 tercatat USD 1.417 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun 2025 sebesar USD 1.186 per ton.
Sedangkan produksi PO dan PKO pada Mei turun dibandingkan dengan April, tetapi konsumsi dan ekspor PO dan PKO turun lebih besar sehingga stok naik.
Secara tahunan Januari-Mei 2026, produksi, konsumsi, dan ekspor industri kelapa sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Produksi CPO pada Mei 2026 mencapai 4.165 ribu ton, turun 7,01 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 4.479 ribu ton. Produksi PKO juga turun menjadi 387 ribu ton dari 424 ribu ton pada April.
Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Mei 2026 mencapai 4.552 ribu ton, turun 7,16 persen dibandingkan April sebesar 4.903 ribu ton.
Secara kumulatif Januari–Mei 2026, total produksi mencapai 25.013 ribu ton, lebih tinggi 10,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 22.600 ribu ton.
Total konsumsi dalam negeri pada Mei 2026 mencapai 2.078 ribu ton, turun 2,98 persen dibandingkan April sebesar 2.141 ribu ton. Penurunan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.035 ribu ton, turun dari 1.137 ribu ton pada April.
Konsumsi pangan naik sedikit menjadi 856 ribu ton dari 831 ribu ton di bulan April, demikian juga konsumsi oleokimia yang naik menjadi 187 ribu ton dari 173 ribu ton pada bulan April.
Secara kumulatif Januari–Mei 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 10.743 ribu ton, lebih tinggi 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 10.200 ribu ton.
Dengan stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton, total produksi Januari-Mei 2026 sebesar 25.013 ribu ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 10.743 ribu ton, total ekspor sebesar 13.320 ribu ton, serta impor sebesar 24 ribu ton, maka stok akhir Mei 2026 tercatat sebesar 3.042 ribu ton.



